Book Review: Maryamah Karpov
Mimpi-mimpi Lintang
Bagaimana Laskar Pelangi bersatu kembali untuk membuat kapal untuk menyelamatkan A Ling dari sarang perompak. Bagaimana si jenius Lintang “menghidupkan” kembali salah satu kapal armada Laksmana Cheng Ho telah karam di perairan Belitong beratus tahun lamanya. Bagaimana si ekstentrik Mahar yang menunjukkan kesaktiannya dengan mengusir dedemit dari tubuh Nai. Bagaimana Mahar melakukan adu negosiasi tingkat tinggi dengan Tuk Bayan Tula hingga meraih kemenangan dengan TV portable bobrok. Bagaimana pertemuan Mahar dan Maura. Bagaimana mereka menghadapi perompak Selat Malaka yang terkenal sadis. Bagaimana Ketua Karmun yang mati-matian merayu ikal untuk mau berobat ke dokter Diaz. Bagaimana Bang Zaitun memberi nasihat tentang cinta kepada Arai setelah Bang Zaitun mengalami kegagalan dalam rumah tangga. Bagaimana Arai berhasil meluluhkan hati pujaan hatinya, Zakiah Nurmala, hingga ia meminangnya, lalu Arai membaca Al Qur’an dengan syahdu di malam pengantinnya. Bagaimana ketabahan Bapak Ikal yang tak jadi naik pangkat. Bapak Ikal menepati janjinya mengajak Ikal nonton film Rhoma Irama.
Bagaimana …
Andrea membuka Maryamah Karpov dengan kisah mengharukan tentang ayah Ikal yang tak jadi naik pangkat lantaran Mandor Djuasin dari Maskapai Timah melakukan kesalahan dalam mendata kuli yang naik pangkat. Itu karena Ayah Ikal tak berijazah.
Ayah, dengan penuh takzim menerima penjelasan itu. Beliau bahkan menyampaikan akan betapa berat tugas Mandor Djuasin mengelola ribuan kuli, dan betapa Ayah berterima kasih pada Mandor karena telah mengiriminya surat yang bagus berlambang maskapai nan terhormat pula, serta menandatangani surat itu, meski surat itu salah alamat. Aku tak dapat menahan perasaanku. Air mataku berlinang-linang saat mengintip ayah mengucapkan semua itu, karena dari balik pintu aku tahu makna ketulusan wajah ayahku. Sungguh bening hati lelaki pendiam itu …
Hal ini mengingatkan kita bagaimana Ayah Ikal yang menempuh 30 km dengan sepeda Rally Robinson-nya untuk mengambil raport Ikal dan Arai di SMA Negeri Bukan Main. Tentu saja sang Ayah tetap mengenakan jas safari empat saku yang hanya dipakainya saat acara penting. Meski Ikal menempatkan ayahnya di kursi (ranking) 75, padahal sebelumnya kursi nomor 3, ayahnya tetap tersenyum bangga. (Sang Pemimpi, Mozaik 12)
Juga saat Ikal melakukan kesalahan. Ayahnya menaikkan Ikal ke boncengan sepeda. Lalu mengingat kaki Ikal ke tuas bawah sadel dengan sapu tangan agar tak terlibas jari-jari ban. Lalu membawanya ke bendungan PN Timah. Dan selama perjalanan itu, sang Ayah menasihati tentang kedamaian hidup seperti yang dicontohkan burung-burung prenjak berdasi, capung-capung, dan kaum kecebong. Sepulangnya, Ayahnya membelikan tebu yang ditusuk tangkai-tangkai lidi. (Edensor, Mozaik 3)
Jika saya boleh membandingkan. Novel terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi ini lebih nikmat terasa dibanding tiga novel sebelumnya. Cara Andrea Hirata berkisah dalam Maryamah Karpov sungguh memikat. Pandai benar Andrea memainkan irama kecepatan alurnya. Terkadang cepat melesat. Terkadang mendayu-dayu sembari bersnoltagia ke masa lalu. Terkadang kocak bin konyol. Terkadang klimaks yang mendebarkan.
Meneruskan tradisi seperti novel sebelumnya. Dalam Maryamah Karpov ini, Andrea juga melanjutkan pelajaran moralnya. Mulai dari pelajaran moral nomor enambelas: diperlukan penyelidikan paling tidak tujuh tahun, untuk benar-benar tahu bahwa seorang pria bukan bajingan. Ini dilatarbelakangi dari bibi Zakiah Nurmala yang menyelidiki tentang keseharian Arai selama tujuh sebelum memutuskan bahwa Arai layak dipertimbangkan untuk Zakiah. Lalu pelajaran moral nomor tujuhbelas: jika berencana untuk poligami, jangan memelihara ayam. Hal ini diinspirasi dari Bang Zaitun yang gagal membina rumah tangga setelah beristri empat. Pelajaran moral nomor delapanbelas: jangan sekali-kali memperlihatkan benda apapun dalam celanamu, di depan orang Melayu. Hingga pelajaran moral nomor sembilanbelas: cinta, bisa saja berbanding terbalik dengan waktu, tapi masih berbanding lurus dengan gila. Tentang ikal yang selalu teringat A Ling ketika melihat nomor tahun peneng sepeda yang sama dengan milik sepeda A Ling.
Berikut nasihat Bang Zaitun kepada Arai:
“Jika kau berjumpa dengan Zakiah, tak perlulah banyak kata, Boi, tak perlu banyak lagak, tak perlu bawa bunga segala. Cukup yang kau tunjukkan raut muka bahwa kau bersedia menyuapinya nanti jika ia sakit, bersedia menggendongnya ke kamar mandi jika ia sudah renta tak mampu berjalan. Bahwa, kau, dengan segenap hatimu, mengatakan di depannya betapa jelitanya ia, meski wajahnya sudah keriput seperti jeruk purut, dan kau bersedia tetap berada di situ, tak ke mana-mana, di sampingnya selalu, selama empat puluh tahun sekalipun …”
44 macam sakit gila versi Ibu Ikal juga Andrea tuturkan kembali dalam Maryamah Karpov. sakit gila nomo sebelas: ingin jadi jagoan seperti dalam film (Kamsir Si Buta dari Gua Hantu). Sakit gila nomor tigapuluh: merasa dirinya sebagai Dewa Marduk pujaan kaum sesat Babilonia, bisa menghidupkan orang mati. Sakit gila nomor tigapuluhtiga: senewen ingin masuk TV. Sakit gila nomort tigapuluhtujuh: kecanduan taruhan. Sakit gila nomor empatpuluh satu: keranjingan manggung (Daud Biduan). Sakit gila nomor tigapuluh delapan: membiarkan diri ditipu kacamata (Ketua Karmun). Sakit gila nomor sembilan: menolak mengakui dan menerima bahwa dirinya pelupa. Baginya orang lainlah yang selalu pelupa (Mahmuddin Pelupa). Sakit gila nomor duapuluh dua: Cinta buta menjadi halusinasi.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Belitong, mereka gemar betul menambahi nama belakang orang sesuai profesi, kebiasaan atau peristiwa penting yang pernah terjadi. Ada Berahim Harap Tenang, Kamsir si Buta dari Gua Hantu, Mahmuddin Berita Buruk, Mahadip Sheriff, Sema’un Barbara, San Thong Pompa, Zainul Helikopter, hingga Mak Cik Maryamah yang mahir memainkan langkah Karpov dalam bercatur.
Berahim mendapat tambahan Harap Tenang karena profesinya sebagai juru pancar film di bioskop, yang setiap kali mengganti rol filmnya, ia memunculkan tulisan Harap Tenang di layar. Sedangkan Mahmuddin Berita Buruk karena tugasnya adalah mengumumkan berita duka kematian di masjid. Lain lagi dengan Zainul Helikopter, yang tak lain pembual nomor satu yang mengaku pernah menyelamatkan Helikopter TNI AU dari gempuran pesawat tempur.
Akhirnya, ending Maryamah Karpov ditutup dengan pelarian diri Ikal dan A Ling setelah tak mendapat restu dari sang Ayah. Tentu saja ini ending yang tidak mengenakkan. Bagaimana mungkin Ikal harus menyerah begitu saja setelah perjuangannya selama ini? Entahlah.
(Jombang, 13 Desember 2009)
Ditulis dalam Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang | Leave a Comment »
Book Review: Totto-chan; Gadis Cilik di Jendela
Pendidikan Menyenangkan Ala Mr. Kobayashi
“Kau benar-benar anak baik, kau tahu itu, kan?” Kata Mr. Kobayashi setiap bertemu Totto-chan.
Tak banyak buku yang masuk daftar buku mengharukan koleksi saya. Buku inilah salah satunya. Itu karena kepiawaian Tetsuko Kuroyanagi meramu pengalaman masa kecilnya lewat buku ini. Polos, unik, memikat dan mengesankan! Hingga buku ini tetap terasa nikmat hingga sekarang, meski pertama kali diterbitkan di Jepang tahun 1981 yang silam.
Berkisah tentang Totto-chan (panggilan kesayangan untuk Tetsuko semasa kecilnya), gadis yang serba ingin tahu dan ingin melakukan banyak hal, yang harus dikeluarkan oleh sekolahnya saat berumur 7 tahun lantaran didakwa tidak disiplin dan membuat onar. Dua dakwaan memberatkan itu adalah; pertama, seringkali Totto-chan membuka dan menutup kotak mejanya tanpa alasan yang jelas, seolah ingin mempermainkannya. Kegiatan membuka dan menutup meja itu dilakukannya selama satu jam! Kedua, kebiasaan Totto-chan yang berdiri di dekat jendela dan memandang keluar. Parahnya, saat rombongan pemusik jalanan lewat di depan kelasnya, Totto-chan memanggilnya dan berseru kepada teman sekelasnya.
Mereka pun mengeluarkan Totto-chan dari sekolah. Tapi Totto-chan beruntung memiliki seorang Mama yang bijak. Sang Mama tidak menyebutkan mengapa Totto-chan dikeluarkan. Mama tak ingin batin putrinya tertekan jika tahu alasan sebenarnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah. Mama hanya mengatakan bahwa ada sekolah yang sangat bagus untuk Totto-chan.
Sekolah baru untuk Totto-chan itu bernama Tomoe Gakuen. Sekolah unik yang kelasnya terdiri dari bekas gerbong-gerbong kereta api. Hayo, anak mana yang tak suka naik kereta api? Dalam gerbong itu, anak-anak akan merasa bukan berada dalam kelas yang membosankan, tapi seperti melewati hari penuh petualangan dalam gerbong kereta api. Wow!
Saat pertama kali bertemu dengan kepala sekolah, saat itulah Totto-chan menemukan orang yang pertama kali mau mendengarkan Totto-chan berceloteh selama 4 jam nonstop! Mr. Sosaku Kobayashi namanya. Kepala sekolah yang kharismatik dan menyenangkan, yang mau mendengarkan celotehan Totto-chan hingga ia kehabisan bahan cerita.
Hari-hari menyenangkan Totto-chan di Tomoe Gakuen pun dimulai. Mr. Kobayashi meminta orangtua untuk menyiapkan bekal untuk makan siang anak-anaknya berupa ”sesuatu dari gunung” dan ”sesuatu dari laut”. ”sesuatu dari gunung” maksudnya adalah makanan dari gunung, misal sayuran, daging, dll. Sedangkan ”sesuatu dari laut” adalah ikan, udang, dll. Dengan begitu secara tak langsung gizi anak-anak cukup dan berimbang. Coba bandingkan dengan 4 Sehat 5 Sempurna!? Selain itu, permainan menebak termasuk ”sesuatu dari gunung” atau ”sesuatu dari laut” kah bekal mereka adalah permainan yang mengasyikkan!
Kebiasaan buruk Totto-chan yang suka melihat lubang toilet itu mengakibatkan dompet kesayangannya masuk ke dalam lubang toilet. Tapi Totto-chan bertekad tak menangis atau merelakan begitu saja dompetnya hilang. Ia pun mengorek-gorek kolam penampungan kotoran dengan sebilah gayun bertangkai panjang yang didapatnya dari gudang peralatan. Susah payah ia mengeluarkan isi penambungan kotoran itu di sampingnya. Hingga menggunung. Mr. Kobayashi pun memergoki Totto-chan. Apakah Mr. Kobayashi marah? Tidak sama sekali!
”Kau sedang apa?” tanyanya kepada Totto-chan.
”Dompetku jatuh,” jawab Totto-chan, sambil terus mencedok. Ia tak ingin membuang waktu.
”Oh, begitu,” kata Kepala Sekolah. Lalu berjalan pergi. Kedua tangannya bertaut di belakang punggung, seperti kebiasaannya ketika berjalan-jalan.
Waktu berlalu. Totto-chan belum juga menemukan dompetnya. Gundukan berbau busuk itu semakin tinggi.
Kepala Sekolah datang lagi. ”Kau sudah menemukan dompetmu?” tanyanya.
”Belum,” jawab Totto-chan dari tengah-tengah gundukan. Keringatnya berlelaran dan pipinya memerah.
Kepala Sekolah mendekat dan berkata ramah,”Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai, kan?” Kemudian pria itu pergi lagi seperti sebelumnya.
Begitulah. Mr. Kobayashi menanamkan tanggung jawab pada anak didiknya. Totto-chan memenuhi janjinya. Ia pun mengembalikan semua ke penampungan kotoran kembali. Lalu menutup dan meratakan kembali tanahnya. Serta mengembalikan gayung itu ke gudang. Meskipun dompet itu tak pernah ia temukan. Dan setelah kejadian itu, Totto-chan tak pernah lagi mengintip ke dalam lubang toilet setelah menggunakannya.
Tomoe Gakuen juga menerapkan sistem kurikulum yang unik. Anak-anak diperbolehkan memulai pelajaran setiap harinya dengan pelajaran favoritnya. Tentunya berbeda dengan sekolah lain yang jadwal mata pelajaranya sudah ditetapkan.
Di awal mata pelajaran pertama, Guru di Tomoe Gakuen menanyakan hal-hal yang akan diajarkan hari itu. Kemudian Guru berkata, ”Sekarang mulai dari salah satu dari ini. Pilih yang kalian suka.”
Jadi tidak masalah pelajaran di mulai entah dengan bahasa, berhitung, fisika, menggambar, dll. Pelajaran dapat dimulai dari pelajaran kesukaan mereka. Metode pengajaran seperti ini akan memudahkan Guru untuk mengidentifikasi bidang apa yang paling diminati siswa, cara berpikir dan karakter siswa. Sehingga bakat siswa pun dapat terkuak sejak dini. Menarik bukan?
Tentunya, di kelas rendah masih ada muatan pelajaran wajib sebagai dasar untuk mereka. Baru di kelas menengah mereka diberi kebebasan memilih pelajaran yang mereka sukai.
Ah …
Rasanya butuh berhari-hari untuk menceritakan bagaimana uniknya Mr. Kobayashi dan sekolah Tomoe Gakuen-nya. Tentang bagaimana anak-anak yang diperbohkan menginap di sekolah lantaran penasaran bagaimana gerbong kereta baru untuk ruang perpustakaan didatangkan ke sekolah mereka. Tentang seorang petani yang menjadi Guru Pertanian mereka. Tentang sekolah menggunakan pakaian yang paling usang. Tentang euritmik yang menyenangkan. Tentang setiap anak yang memiliki pohon sendiri-sendiri. Tentang kematian Yasuaki-chan, teman sekelas Tomoe Gakuen yang menderita polio. Hingga meletusnya Perang Dunia II yang menyebabnya Tomoe Gakuen terbakar …
Ending inilah yang membuat saya nyaris menitikkan air mata. Rasa kehilangan yang begitu sangat itu juga menyergap saya. Sebagaimana Mr. Kobayashi katakan kepada putranya, Tomoe, saat melihat sekolahnya terbakar api, ”Sekolah seperti apa yang akan kita bangun lagi?”
Akhirnya …
Meski saya hanya seorang Tenaga Administrasi di sekolah dasar, tapi saya banyak melihat dan mendengar langsung bagaimana pendidikan di sekolah dasar itu berjalan. Terkadang kami seperti Mr. Kobayashi yang menyenangkan. Terkadang pula kami bagai monster yang menyalak-nyalak …
Tapi saya tahu, dibalik kearoganan kami, kami masih memiliki hati yang seputih salju, sehangat matahari, dan seteduh awan.
Dan saya pun tahu, di balik kenakalan dan tingkah polah anak didik kami, mereka menyimpan potensi kebaikan yang luar biasa dan membanggakan untuk bangsa ini … Pasti!
***
(Jombang, kala malam bertirai gerimis, 8 Des 2009)
Ditulis dalam Pendidikan Menyenangkan Ala Mr. Kobayashi, Resensi | 2 Komentar »
Ulasan Spesial dari film Ketika Cinta Bertasbih 2 :
Two Thumbs!
Setelah berpekan-pekan saya menantikannya, akhirnya pekan ini film Ketika Cinta Bertasbih 2 mampir di Plaza Jombang. Dalam penantian panjang itu, tak kurang 3 kali saya membaca kembali novel Ketika Cinta Bertasbih. Itu karena saya ingin membuktikan apakah proses Ekranisasi alias adaptasi novel ke layar lebar sesuai harapan pembaca novelnya. Saya tidak ingin kenikmatan yang saya rasakan saat membaca novel menjadi hilang setelah menonton filmnya.
Hasilnya?
Wow, menakjubkan!
Saya harus memberi two thumbs. Satu untuk Chaerul Umam, dan satu lagi untuk Imam Tantowi. Kolaborasi dan kerja keras mereka sungguh menjadikan film hasil transformasi ke layar lebar ini senikmat novelnya! Salut!
Imam Tantowi pandai benar mensortasi dengan memilih adegan di novel yang tidak perlu difilmkan. Dengan tidak adanya tokoh Zumroh, membuat kerapatan dan kecepatan alur cerita dapat terjaga, sehingga tidak sampai menimbulkan alur ganda yang dapat membingungkan penonton.
Kemampuan mengadaptasi dengan memilah mana yang pokok dan cabang inilah menjadikan Imam Tantowi layak menyandang sebagai penulis skenario terbaik negeri ini!
Pun Chaerul Umam yang mampu meracik adegan demi adegan di film Ketika Cinta Bertasbih 2 dengan padat konflik dan lebih dramatis. Bukan konflik emosional yang meledak-ledak, tetapi konflik tokoh dengan kondisi yang tengah menimpanya. Itu terbaca bagaimana ketat dan terjaganya alur cerita hingga klimaks bertambah klimaks sampai akhir cerita. Sungguh alur yang halus dan runtut! Bahkan, jika ada penonton yang sebelumnya tidak pernah menonton film Ketika Cinta Bertasbih 1 atau membaca novelnya, saya yakin penonton tersebut dapat memahami alur cerita di film Ketika Cinta Bertasbih 2 ini dengan baik.
Juga kemampuan akting tokohnya. Baik tokoh utama, figuran, protagonis, ataupun antagonis, semuanya terlihat berkembang. Ditambah lagi hadirnya tokoh-tokoh baru yang membuat film lebih berwarna. Bahkan saat Cholidi Asadil Alam dan Dude Herlino beradu akting, keduanya terlihat berimbang dan mengesankan.
Jika di film Ketika Cinta Bertasbih 1 saya mengatakan Furqon hanya bermodal tampan Korea saja, maka kali ini kemampuan akting Furqon sungguh luar biasa. Puncaknya saat ia beradu akting dengan Anna di sebuah kamar hotel. Sip!
Chaerul Umam sengaja membuat ending cerita sedikit terbuka dengan menambahkan pertemuan Furqon dan Eliana di rumah Kiai Lutfi, juga ketidakjelasan perjodohan Ilyas dan Husna. Belum lagi kisah cinta tak berbalas Hafez kepada Cut Mala. Wajar kiranya jika saya sangat berharap hadirnya film Ketika Cinta Bertasbih 3 untuk menjawab semua itu.
Dengan adaptasi yang sempurna, kekuatan akting yang matang dan berimbang, kontrol kecepatan alur cerita yang terjaga, manajemen konflik yang apik, penyelarasan kostum, pengambilan sudut pandang yang pas, hingga musik yang OK, wajar kiranya jika saya mengatakan inilah film Indonesia terbaik yang pernah saya tonton! Selamat!
Dan akhirnya, saat film usai, saya pun keluar dari Plaza, entah mengapa saya melihat mereka tersenyum-senyum sendiri … .
* * *
Ditulis dalam Resensi, Ulasan Spesial Film KCB 2: Two Thumbs! | Leave a Comment »
Resensi Film Ketika Cinta Bertasbih #1:
POLIGAMI DAN JENGKOL
Berawal dari satu malam yang lalu. Tepatnya ketika saya bersama saudara saya (Akh Farid) hendak menuju rumah Ust. Agus untuk mengikuti pengajian rutin pekanan. Seperti biasa, kami bersepeda kayuh melewati Jl. KH Wahid Hasyim yang saat itu masih sesak. Ketika akan melewati Bioskop Plaza, entah mengapa tiba-tiba mata ini melirik ke sebuah baliho besar yang terpampang. Padahal, biasanya saya enggan sekali. Karena memang, biasanya bioskop satu-satunya di kota Jombang ini hanya memasang baliho film dedemit lokal yang amit-amit. Tapi malam itu tidak, Sobat … Karena ….
Wow! KCB sudah sampai di Jombang! Pekik saya dalam hati.
Hati punya saya ini tak tentu langsung berhambur terasa … eh maksud saya … Hati saya langsung berhambur tak tentu … Tuh kan .. jadi belepotan ….
Biasanya saya yang paling malas berangkat ngaji. Malam itu tidak, Sobat. Saya tak sabar menunggu besok untuk menyaksikan langsung KCB. Saking tak sabarnya, sepulang mengaji, saya memaksa Akh Farid untuk menemani saya melihat jadwal pemutaran KCB di Plaza. Kami gagal menemukannya, karena memang saat itu nyaris jam 12 malam teng.
Esoknya, hanya bermodal ingatan pas-pasan. Karena seingat saya, Bioskop Plaza diputar jam 3. Setelah dari tempat saya bekerja (SDN Tugukepatihan I Jombang), saya langsung meluncur ke Plaza. Tepat jam 3 sore ketika itu. Sesampai di Plaza ternyata KCB telah diputar. Dengan napas yang masih ngos-ngosan, saya meraba-raba mencari tempat duduk. Tentu saja saya kecewa karena beberapa penggal telah terlewat. Padahal katanya, di awal film KCB ini banyak menyajikan suasana Mesir lengkap dengan keindahannya. Tapi tak apa, karena saya masih menemukan Ust. Musjab saat muncul dari balik selambu pintu … he … he … Wow! Ini kejutan! Saya baru tahu, ternyata Kang Abik sendiri lah yang memerankan Ust. Mujab. Akting Kang Abik tak kalah dengan Ust. Deddy Mizwar. Mantabbb …
Banyak hal mengesankan yang dapat saya temukan di film KCB ini. Berikut adalah beberapa yang sempat terekam dalam benak saya:
Abdullah Khairul Azzam (Cholidi Asadil Alam). Tak salah kiranya jika Kholidi terpilih untuk memerankan Azzam. Sosok yang kalem. Kebapakan. Berwibawa. Senyum menawan. Lengkap dengan logat Jawa yang lumayan kental. Kholidi memamerkan kekuatan akting yang mendalam saat marah ketika tahu ada orang tak dikenal (Wail) yang numpang nginap di apartemennya. Tegas dan berkelas! Tak seperti di sinetron Indonesia umumnya yang men-shoot jarak dekat ke face aktornya saat adegan marah dan geram. Sampai-sampai, saking ngedennnya, wajah aktor terlihat menceng dibuat-buat … he … he …
Juga saat Azzam berdiri memandang ke arah laut lepas (atau mungkin sungai Nil?) sekembali dari Ust Mujab. Kesedihannya mengalun sendu bersama musik yang berpadu dengan keindahan kota Mesir di malam hari. Klop banget.
Adegan tersebut mengingat saya pada Fahri di film Ayat-ayat Cinta. Fahri yang saat itu di tepi sungai Nil sebelum Maria datang menghampirinya.
Sayangnya, adegan Azzam di tepi sungai Nil tersebut terasa sangat singkat. Padahal momen itu adalah kesempatan untuk mengaduk-aduk perasaan penonton. Terlebih scoore yang mengirinnya juga pas. Tapi kekecewaan saya terbayar karena kesedihan Azzam telah terapresiasi saat Azzam membaca Al Qur’an di masjid setelahnya.
Pertemuan Azzam dengan Anna tuk pertama kalinya terjadi dalam bus yang membawa Azzam ke pasar Sayyeda Zaenab. Uniknya, dialog perkenalan awal mereka nyaris sama saat Maria menyapa Fahri dalam bus di film AAC …. ”… anta Andonesi?”
Anna Althafunnisa (Oki Setiana Dewi). Andai saya bisa bertemu dengan Oki, saya pasti akan memakinya habis-habisan …
Keanggunannya itu lho … Bikin saya tak bisa tidur beberapa hari ini. Saya pun masuk angin jadinya.
Sebenarnya Anna tak hanya anggun dan santun, tapi juga ngalem. Itu terlihat saat KH. Lutfi Hakim (Ust. Deddy Mizwar), ayah Ana, ingin mengajukan pertanyaan ke Anna. Dengan tak bergeming dari laptopnya, Anna menjawab dengan ngalem-nya ”Ya monggo …” Ih, nggemesin banget … Ngalem puol … Saya suka itu!
Kedua, akting Anna juga perfect saat prosesi lamaran Furqon di rumah Kyai Lutfi. ”Saya ingin seperti Fatimah Az-Zahra, putri Kanjeng Nabi yang tak pernah dimadu oleh Sayyidina Ali …” Air matanya pun meleleh ….
Anna juga menjelaskan bagaimana ia menganalogkan poligami seumpama jengkol. Jengkol tak diharamkan, tapi banyak orang yang tak menyukainya. Ini seolah menjawab tuntas film AAC yang menyisakan polemik poligami.
Eliana Pramesthi Alam (Alice Nourin). Eliana terlihat mmhm …. cantik sekali … saat menggunakan gaun Kimono modifikasi di ulang tahunnya. Sayangnya saya ketinggalan saat Eliana mengenakan berjilbab.
Hal yang terasa sedikit mengganjal saat salah satu stasiun TV memperlihatkan adegan Eliana yang tengah berlari di sebuah sinetron. Adegan tersebut diulang sedikitnya dua kali dalam film ini.
Cut Tiara (Tika Putri). Lagi-lagi hati ini berbunga-bunga melihat Tika Putri berjilbab. Cuantik banget … Aktingnya pun tak diragukan lagi. Terlebih saat Tiara menceritakan pada Cut Mala perihal pernikahannya dengan Ust. Zulkifli. Air mata saya pun nyaris berderai.
Fadhil (Lucy Perdana). Air mata saya benar-benar tumpah saat Fadhil menyanyikan lagu dari Aceh ”Saleum” di pesta pernikahan Cut Tiara dan Ust. Zulkifli. Inilah klimaks film ini. Bagian inilah yang paling mengesankan di film ini. Seperti kita tahu, Salah satu kekuatan cerita dalam novel KCB #1 adalah kisah cinta Fadhil dan Cut Tiara. Tuntutan itu tersaji dengan baik dalam film ini.
Furqon Andi Hasan (Andi Arsyil Rahman). Meski kemampuan aktingnya biasa-biasa saja, Furqon memiliki wajah yang Korea banget. Kuereen …
Ayatul Husna (Meyda Safira). Meyda memerankan Husna dengan baik. Sosok yang mandiri, anak sulung yang bertanggung jawab, tapi tetap curly …. Top banget! Akting Meyda terlihat matang di akhir film, yakni ketika Husna menjemput Azzam di bandara. Ekspresi kerinduan yang mendalam dari seorang adik kepada kakaknya tergurat sempurna di wajahnya.
Sayangnya, mengapa warna motor matic yang Husna pakai di awal pemunculannya tidak sama dengan saat Ana bertamu di rumah Husna?
Akhirnya, film yang menandai comeback-nya Choirul Umam di dunia perfilman Indonesia ini sangat layak mendapat 9,5 bintang dari 10 bintang dari kategori film yang wajib ditonton! Salut!
Ditulis dalam Resensi, Resensi Film Ketika Cinta Bertasbih #1 | 3 Komentar »
Sketsa 1430 atau 2009
Jika Ingin, Katakan!
– sebuah refleksi tahun baru –
(Sumber: Majalah Donatur UMMUL QURO LP-UQ Jombang,
Edisi 60/Th.9/Januari 2009)
Insya Allah telah 1430 tahun yang lalu terjadi momentum sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW. Mungkin telah 2009 tahun yang lalu Al Masih putera Maryam yaitu Nabi Isa AS dilahirkan. 1430 atau 2009 hanyalah angka. Agak unik karena hari pertama keduanya hanya selisih dua hari saja. Namun ia hanyalah penambahan waktu dari usia dunia. Lalu, apa yang penting dengan saat pergantian tahun ini?
Jika diri kita sempat merenung sejenak, menggambar sketsa diri untuk waktu esok, maka hikmahnya akan memperbaiki kesalahan dan kelemahan diri, kemudian melengkapinya lebih sempurna dengan kekuatan baru, semangat baru dan optimisme baru untuk mewujudkan kesuksesan meraih cita-cita kita.
Ya, sketsa hidup kita harus lebih baik di waktu-waktu mendatang.
Jika ingin, katakanlah, ”Aku harus kaya!” Maka garis-gariskan sketsa yang menggambarkan kejujuran, keberanian untuk sukses, perencanaan dan perhitungan cerdas, komunikasi akrab, kerja keras dan tuntas, dan kepedulian.
Jika ingin, katakanlah, ”Aku harus menjadi pemimpin!” Maka coretkan sketsa dengan kuat arti keikhlasan, tawadlu, semangat juang, kecerdasan, keteladanan, ketegaran, optimisme, dan kesabaran.
Jika ingin, katakanlah, ”Aku harus masuk surga!” Maka guratkan sketsa bermakna penghambaan, pengorbanan, hidup fi sabilillah, syahid khusnul khotimah, dan seluruh coretan ’kebaikan-kebaikan dari firman-Nya’.
1430 atau 2009 bukan angka tanpa makna. Karena Allah SWT telah menghitung berapa usia kita. Apakah benar hati ini mengatakan bahwa kita sepanjang waktu mengimani-Nya?
Adakah amanat harta dan kenikmatan dunia yang dititipkan-Nya membelenggu tangan kita untuk bersedekah sebagai hak para dhuafa?
Mungkinkah jasad ini terlena karena keindahan dan kekuatannya hingga lupa sujud syukur sampai ia memutih dan lemah?
Masih ada waktu untuk hijrah seperti perjuangan hijrah Rasulullah Muhammad SAW.
Masih ada waktu untuk ’lahir’ kembali seperti makna lahirnya Nabiyullah Isa AS. Wallahu’alam.
* * *
Ditulis dalam Jika Ingin, Oase | 7 Komentar »
Wedding of The Year

Pagi itu. Embun masih enggan menitik dari ujung-ujung daun padi yang terhampar luas di Desa Kalikalong, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Tepat di hari Ahad, 28 Desember 2008. Atau bertepatan di hari terakhir di tahun 1429 H. Sebuah rumah warga telah diwarnai dengan rangkaian kesibukan di pagi yang membahagiakan itu.
Riwa-riwi panitia sibuk mempersiapkan segala hal untuk acara yang sangat spesial dan sungguh dinanti itu. Dan yang paling terlihat aktif adalah Akhi Bajuri. Ia bersama seorang akhwat dari Solo yang juga istimewa, berkoordinasi jenius dan profesional demi lancarnya prosesi penuh berkah itu, yakni sebuah akad nikah yang dilanjut Walimatul Ursy.
Pesta pernikahan sederhana, tapi cukup menggharukan itu berlangsung mulai pukul 10 pagi. Diawali akad nikah berupa ijab qabul dengan mahar membaca Surah Ar-Rahman dan sebuah buku yang ditulis sendiri oleh mempelai pria untuk sang bidadarinya.
Suasana bertambah khidmat ketika mempelai pria membaca Surah Ar-Rahman. Suaranya yang merdu mendayu membuat seluruh hadirin larut dan terharu biru. Saya cukup beruntung karena dapat melihat langsung prosesi tersebut. Lewat kamera yang saya arahkan pada kedua mempelai, saya dapat melihat bulir air mata yang menitik dari mata mempelai wanita. O, betapa mengharukan ….
Sementara itu. Dalam tausiyah nikah, KH. Habiburrahman El Shirazy, Lc. Memberikan 4 bekal untuk kedua mempelai. Keempat 4 bekal tersebut adalah bantal, kloso, kayu dan lengo. Tentu saja 4 bekal itu bukan sembarang bekal. Melainkan 4 filosofi Jawa yang mujarab dan kesohor manjur adanya.
Saya tak dapat menjelaskan panjang lebar di sini. Tapi kira-kira begini. Bantal berarti jika ada beban, siapkan mental. Kloso adalah klop (satu visi) dan rumongso (sadar diri dan care). Kayu tak lain adalah terbuka dan ngguyu. Lek bojomu menteleng, lungo’o, begitu kata Kang Abik mendifinisikan Lengo.
Inilah pernikahan itu. Pernikahan General Manager Pesantren Basmala Indonesia, Ust. Kasmijan, S.Pd.I alias A. Huzafa El Sahmi Vs. Siti Solichatin.
Barakallahu lak wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fil khoir …
* * *
Ditulis dalam Refleksi Hati, Wedding of The Year | 1 Komentar »
Resensi Film Wall-E
Tempat Sampah Itu Bernama BUMI



Tak mengherankan kiranya jika themovieblog.com menempatkan film animasi ini pada urutan pertama di 10 film terbaik hingga pertengahan tahun 2008.
Film science fiction besutan sutradara Angus MacLane ini memang sengaja memamerkan kelembutan grafis hasil kerja keras tim animator di studio Pixar. Sebagaimana yang pernah diungkapkan Angus bahwa dengan film ini para animator di studio tersebut mendapat kesempatan untuk memamerkan talenta mereka.
Bahkan di bagian pembuka, Wall-E hanya menyuguhkan adegan tanpa dialog sepanjang 40 menit. Hanya menggambarkan bumi yang telah tertutup sampah dan sebuah robot kumuh yang ‘riwa-riwi’ sedang mem-packing sampah. Sesekali terdengar robot tersebut menggerutu sendiri. Tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim Pixar untuk membuatnya jadi tak membosankan. Dan terbukti mereka sukses melakukannya.
Film ini mengisahkan robot mungil, kuno nan kumuh yang bernama WALL-E (Waste Allocation Load Lifter-Earth-Class) yang bertugas membersihkan bumi dengan cara mem-packing sampah-sampah yang berserakan. Hingga suatu ketika sebuah agen bernama Eve yang ditugaskan untuk mencari sebuah tanaman yang masih hidup di bumi. Wall-E pun seketika langsung jatuh cinta pada Eve yang bernampilan mulus tersebut. Seperti halnya karakter agen wanita dalam film lain pada umumnya, sosok Eve di sini juga dingin, cuek, acuh, dan super jutek.
Meski hanya robot, tim Pixar mampu melekatkan karakter yang kuat pada Wall-E. Sebagaimana orang sedang jatuh cinta pada umumnya. Terlebih ketika Eve “membeku” setelah ia menemukan tanaman yang dicarinya. Wall-E berusaha mati-matian untuk membangunkan Eve. Kesempatan itu pun tak Wall-E sia-siakan untuk berkencan dengan Eve. Bahkan, mereka sempat melangsungkan ”pernikahan” di senja hari. Adegan ini terasa semakin romantis saat tim Pixar menambahkan iringan musik first date yang unik garapan Thomas Newman.
Setelah beberapa hari “membeku”, Eve pun ditarik kembali ke pesawat karena telah menyelesaikan tugasnya. Wall-E yang menganggap kekasihnya telah diculik, maka ia pun nekat ‘gandol’ di pesawat induk tersebut. Hingga mereka tiba di sebuah pesawat induk bernama AXIOM.
Dikisahkan bahwa penduduk bumi tinggal di AXIOM untuk sementara waktu, selama robot pembersih bumi bekerja. Hingga bumi benar-benar bersih kembali. Dan diperkenankan kembali ke bumi saat ditemukan tanaman tumbuh di bumi. Tapi karena sampah-sampah di bumi telah melebihi ambang batas, maka manusia pun tidak diperkenankan kembali ke bumi.
Dengan program B & L alias Buy and Large, manusia yang tinggal di AXIOM dimanjakan dengan berbagai fasilitas. Bahkan, mereka tak perlu berjalan kaki. Hingga membuat bobot mereka pun berlimpah. Dari tahun ke tahun, kondisi mereka selalu ”monoton” baik.
Beralasan karena kondisi bumi yang tak layak huni lagi, maka sistem otomatis AXIOM berusaha menggagalkan program kembali ke bumi tersebut. Bosan dan rasa penasaran sang kapten tentang bumi yang membawanya ingin kembali ke bumi. Tentu saja hal itu membuatnya harus melawan asisten robotnya sendiri. Inilah pesan moral terbaik dari film ini. Dimana ketergantungan pada teknologi tak selamanya baik. Dan tentu saja tentang menjaga kelestarian bumi.
* * *
Ditulis dalam Resensi, Wall-E | Leave a Comment »
Red Cliff:
Perang Strategi di Karang Merah

Adegan yang paling menggelitik di film yang dibagi menjadi dua sekuel ini yakni tatkala Zhuge Liang (Takeshi Kaneshiro) membantu persalinan seekor kuda milik istri Zhou Yu (Tony Leung). Rupaya itu juga bagian dari teknik negosiasi Zhuge Liang untuk menarik simpati panglima perang Zhou Yu, agar dapat bergabung dengan Liu Bei (Yong You) untuk bergabung melawan perdana menteri Cao Cao (Zhang Fengyi) yang terkenal bengis.
Sebelumnya, Zhuge Liang dibuat terkesima oleh kecerdasan dan sikap bijaksana Zhou Yu pada beberapa prajuritnya yang kedapatan mencuri kerbau milik penduduk.
Saya pikir, tak ada film silat yang dapat menandingi Hero karya Zhang Yimou. Tapi alibi saya terbantahkan setelah melihat film yang disebut-sebut menandai come-back nya John Woo ke Hongkong ini.
Red Cliff bercerita ketika Dinasti Han yang dibawah kepepimpinan kaisar muda Xian (Wang Ning) yang tak bisa berbuat banyak dan selalu mengikuti bujukan perdana menteri Cao Cao untuk menyerang Liu Bei dan Sun Quan (Chang Chen) di bagian Selatan Cina. Dengan alasan, keduanya berusaha untuk merebut kekuasaan sang kaisar.
Di bagian awal, Red Cliff menggambarkan bagaimana kecerdikan Zhuge Liang, sang desainer perang, untuk melawan gempuran pasukan Cao Cao di pertempuran Changban. Yakni dengan menggunakan perisai yang dapat memantulkan silau sinar matahari ke arah pasukan Cao Cao. Taktik perang itu lumayan berhasil untuk menghambat serangan. Tapi akhirnya Liu Bei beserta anak buahnya pun tetap mundur dan menyelamatkan diri.
Untungnya Zhang Fei (Zang Jinsheng) dan pasukannya datang untuk membantu Liu Bei. Dengan bantuan Zhang Fei, rombongan Liu Bei berhasil meloloskan diri dari kepungan tentara Cao Cao walaupun Liu Bei harus kehilangan istrinya dalam pertempuran ini.
Kemudian Liue Bei mengutus Zhuge Liang untuk bernegosiasi ke Sun Quan (Chang Chen). Ia bertemu dengan penasehat utama Sun Quan, Zhou Yu. Zhuge Liang pun berhasil membujuk Zhou Yu untuk bergabung bersam Liu Bei untuk malawan Cao Cao. Padahal negosiasi mereka hanya berlangsung lewat adu petikan sitar belaka. Adu peran yang memukau pun tergambar di sini. Lalu giliran Zhou Yu yang meyakinkan penguasa Wu, Sun Quan, untuk bergabung melawan Cao Cao.
Ditulis dalam Red Cliff, Resensi | 1 Komentar »















