Resensi Film Ketika Cinta Bertasbih #1:
POLIGAMI DAN JENGKOL
Berawal dari satu malam yang lalu. Tepatnya ketika saya bersama saudara saya (Akh Farid) hendak menuju rumah Ust. Agus untuk mengikuti pengajian rutin pekanan. Seperti biasa, kami bersepeda kayuh melewati Jl. KH Wahid Hasyim yang saat itu masih sesak. Ketika akan melewati Bioskop Plaza, entah mengapa tiba-tiba mata ini melirik ke sebuah baliho besar yang terpampang. Padahal, biasanya saya enggan sekali. Karena memang, biasanya bioskop satu-satunya di kota Jombang ini hanya memasang baliho film dedemit lokal yang amit-amit. Tapi malam itu tidak, Sobat … Karena ….
Wow! KCB sudah sampai di Jombang! Pekik saya dalam hati.
Hati punya saya ini tak tentu langsung berhambur terasa … eh maksud saya … Hati saya langsung berhambur tak tentu … Tuh kan .. jadi belepotan ….
Biasanya saya yang paling malas berangkat ngaji. Malam itu tidak, Sobat. Saya tak sabar menunggu besok untuk menyaksikan langsung KCB. Saking tak sabarnya, sepulang mengaji, saya memaksa Akh Farid untuk menemani saya melihat jadwal pemutaran KCB di Plaza. Kami gagal menemukannya, karena memang saat itu nyaris jam 12 malam teng.
Esoknya, hanya bermodal ingatan pas-pasan. Karena seingat saya, Bioskop Plaza diputar jam 3. Setelah dari tempat saya bekerja (SDN Tugukepatihan I Jombang), saya langsung meluncur ke Plaza. Tepat jam 3 sore ketika itu. Sesampai di Plaza ternyata KCB telah diputar. Dengan napas yang masih ngos-ngosan, saya meraba-raba mencari tempat duduk. Tentu saja saya kecewa karena beberapa penggal telah terlewat. Padahal katanya, di awal film KCB ini banyak menyajikan suasana Mesir lengkap dengan keindahannya. Tapi tak apa, karena saya masih menemukan Ust. Musjab saat muncul dari balik selambu pintu … he … he … Wow! Ini kejutan! Saya baru tahu, ternyata Kang Abik sendiri lah yang memerankan Ust. Mujab. Akting Kang Abik tak kalah dengan Ust. Deddy Mizwar. Mantabbb …
Banyak hal mengesankan yang dapat saya temukan di film KCB ini. Berikut adalah beberapa yang sempat terekam dalam benak saya:
Abdullah Khairul Azzam (Cholidi Asadil Alam). Tak salah kiranya jika Kholidi terpilih untuk memerankan Azzam. Sosok yang kalem. Kebapakan. Berwibawa. Senyum menawan. Lengkap dengan logat Jawa yang lumayan kental. Kholidi memamerkan kekuatan akting yang mendalam saat marah ketika tahu ada orang tak dikenal (Wail) yang numpang nginap di apartemennya. Tegas dan berkelas! Tak seperti di sinetron Indonesia umumnya yang men-shoot jarak dekat ke face aktornya saat adegan marah dan geram. Sampai-sampai, saking ngedennnya, wajah aktor terlihat menceng dibuat-buat … he … he …
Juga saat Azzam berdiri memandang ke arah laut lepas (atau mungkin sungai Nil?) sekembali dari Ust Mujab. Kesedihannya mengalun sendu bersama musik yang berpadu dengan keindahan kota Mesir di malam hari. Klop banget.
Adegan tersebut mengingat saya pada Fahri di film Ayat-ayat Cinta. Fahri yang saat itu di tepi sungai Nil sebelum Maria datang menghampirinya.
Sayangnya, adegan Azzam di tepi sungai Nil tersebut terasa sangat singkat. Padahal momen itu adalah kesempatan untuk mengaduk-aduk perasaan penonton. Terlebih scoore yang mengirinnya juga pas. Tapi kekecewaan saya terbayar karena kesedihan Azzam telah terapresiasi saat Azzam membaca Al Qur’an di masjid setelahnya.
Pertemuan Azzam dengan Anna tuk pertama kalinya terjadi dalam bus yang membawa Azzam ke pasar Sayyeda Zaenab. Uniknya, dialog perkenalan awal mereka nyaris sama saat Maria menyapa Fahri dalam bus di film AAC …. ”… anta Andonesi?”
Anna Althafunnisa (Oki Setiana Dewi). Andai saya bisa bertemu dengan Oki, saya pasti akan memakinya habis-habisan …
Keanggunannya itu lho … Bikin saya tak bisa tidur beberapa hari ini. Saya pun masuk angin jadinya.
Sebenarnya Anna tak hanya anggun dan santun, tapi juga ngalem. Itu terlihat saat KH. Lutfi Hakim (Ust. Deddy Mizwar), ayah Ana, ingin mengajukan pertanyaan ke Anna. Dengan tak bergeming dari laptopnya, Anna menjawab dengan ngalem-nya ”Ya monggo …” Ih, nggemesin banget … Ngalem puol … Saya suka itu!
Kedua, akting Anna juga perfect saat prosesi lamaran Furqon di rumah Kyai Lutfi. ”Saya ingin seperti Fatimah Az-Zahra, putri Kanjeng Nabi yang tak pernah dimadu oleh Sayyidina Ali …” Air matanya pun meleleh ….
Anna juga menjelaskan bagaimana ia menganalogkan poligami seumpama jengkol. Jengkol tak diharamkan, tapi banyak orang yang tak menyukainya. Ini seolah menjawab tuntas film AAC yang menyisakan polemik poligami.
Eliana Pramesthi Alam (Alice Nourin). Eliana terlihat mmhm …. cantik sekali … saat menggunakan gaun Kimono modifikasi di ulang tahunnya. Sayangnya saya ketinggalan saat Eliana mengenakan berjilbab.
Hal yang terasa sedikit mengganjal saat salah satu stasiun TV memperlihatkan adegan Eliana yang tengah berlari di sebuah sinetron. Adegan tersebut diulang sedikitnya dua kali dalam film ini.
Cut Tiara (Tika Putri). Lagi-lagi hati ini berbunga-bunga melihat Tika Putri berjilbab. Cuantik banget … Aktingnya pun tak diragukan lagi. Terlebih saat Tiara menceritakan pada Cut Mala perihal pernikahannya dengan Ust. Zulkifli. Air mata saya pun nyaris berderai.
Fadhil (Lucy Perdana). Air mata saya benar-benar tumpah saat Fadhil menyanyikan lagu dari Aceh ”Saleum” di pesta pernikahan Cut Tiara dan Ust. Zulkifli. Inilah klimaks film ini. Bagian inilah yang paling mengesankan di film ini. Seperti kita tahu, Salah satu kekuatan cerita dalam novel KCB #1 adalah kisah cinta Fadhil dan Cut Tiara. Tuntutan itu tersaji dengan baik dalam film ini.
Furqon Andi Hasan (Andi Arsyil Rahman). Meski kemampuan aktingnya biasa-biasa saja, Furqon memiliki wajah yang Korea banget. Kuereen …
Ayatul Husna (Meyda Safira). Meyda memerankan Husna dengan baik. Sosok yang mandiri, anak sulung yang bertanggung jawab, tapi tetap curly …. Top banget! Akting Meyda terlihat matang di akhir film, yakni ketika Husna menjemput Azzam di bandara. Ekspresi kerinduan yang mendalam dari seorang adik kepada kakaknya tergurat sempurna di wajahnya.
Sayangnya, mengapa warna motor matic yang Husna pakai di awal pemunculannya tidak sama dengan saat Ana bertamu di rumah Husna?
Akhirnya, film yang menandai comeback-nya Choirul Umam di dunia perfilman Indonesia ini sangat layak mendapat 9,5 bintang dari 10 bintang dari kategori film yang wajib ditonton! Salut!



















