Feeds:
Tulisan
Komentar

KCB 2 1

 

Ulasan Spesial dari film Ketika Cinta Bertasbih 2 :

Two Thumbs!

Setelah berpekan-pekan saya menantikannya, akhirnya pekan ini film Ketika Cinta Bertasbih 2 mampir di Plaza Jombang. Dalam penantian panjang itu, tak kurang 3 kali saya membaca kembali novel Ketika Cinta Bertasbih. Itu karena saya ingin membuktikan apakah proses Ekranisasi alias adaptasi novel ke layar lebar sesuai harapan pembaca novelnya. Saya tidak ingin kenikmatan yang saya rasakan saat membaca novel menjadi hilang setelah menonton filmnya.

Hasilnya?

Wow, menakjubkan!

Saya harus memberi two thumbs. Satu untuk Chaerul Umam, dan satu lagi untuk Imam Tantowi. Kolaborasi dan kerja keras mereka sungguh menjadikan film hasil transformasi ke layar lebar ini senikmat novelnya! Salut!

Imam Tantowi pandai benar mensortasi dengan memilih adegan di novel yang tidak perlu difilmkan. Dengan tidak adanya tokoh Zumroh, membuat kerapatan dan kecepatan alur cerita dapat terjaga, sehingga tidak sampai menimbulkan alur ganda yang dapat membingungkan penonton.

Kemampuan mengadaptasi dengan memilah mana yang pokok dan cabang inilah menjadikan Imam Tantowi layak menyandang sebagai penulis skenario terbaik negeri ini!

Pun Chaerul Umam yang mampu meracik adegan demi adegan di film Ketika Cinta Bertasbih 2 dengan padat konflik dan lebih dramatis. Bukan konflik emosional yang meledak-ledak, tetapi konflik tokoh dengan kondisi yang tengah menimpanya. Itu terbaca bagaimana ketat dan terjaganya alur cerita hingga klimaks bertambah klimaks sampai akhir cerita. Sungguh alur yang halus dan runtut! Bahkan, jika ada penonton yang sebelumnya tidak pernah menonton film Ketika Cinta Bertasbih 1 atau membaca novelnya, saya yakin penonton tersebut dapat memahami alur cerita di film Ketika Cinta Bertasbih 2 ini dengan baik.

Juga kemampuan akting tokohnya. Baik tokoh utama, figuran, protagonis, ataupun antagonis, semuanya terlihat berkembang. Ditambah lagi hadirnya tokoh-tokoh baru yang membuat film lebih berwarna. Bahkan saat Cholidi Asadil Alam dan Dude Herlino beradu akting, keduanya terlihat berimbang dan mengesankan.

Jika di film Ketika Cinta Bertasbih 1 saya mengatakan Furqon hanya bermodal tampan Korea saja, maka kali ini kemampuan akting Furqon sungguh luar biasa. Puncaknya saat ia beradu akting dengan Anna di sebuah kamar hotel. Sip!

Chaerul Umam sengaja membuat ending cerita sedikit terbuka dengan menambahkan pertemuan Furqon dan Eliana di rumah Kiai Lutfi, juga ketidakjelasan perjodohan Ilyas dan Husna. Belum lagi kisah cinta tak berbalas Hafez kepada Cut Mala. Wajar kiranya jika saya sangat berharap hadirnya film Ketika Cinta Bertasbih 3 untuk menjawab semua itu.

Dengan adaptasi yang sempurna, kekuatan akting yang matang dan berimbang, kontrol kecepatan alur cerita yang terjaga, manajemen konflik yang apik, penyelarasan kostum, pengambilan sudut pandang yang pas, hingga musik yang OK, wajar kiranya jika saya mengatakan inilah film Indonesia terbaik yang pernah saya tonton! Selamat!

Dan akhirnya, saat film usai, saya pun keluar dari Plaza, entah mengapa saya melihat mereka tersenyum-senyum sendiri … .

* * *

Resensi Film Ketika Cinta Bertasbih #1:

POLIGAMI DAN JENGKOLketika cinta bertasbih 1

Berawal dari satu malam yang lalu. Tepatnya ketika saya bersama saudara saya (Akh Farid) hendak menuju rumah Ust. Agus untuk mengikuti pengajian rutin pekanan. Seperti biasa, kami bersepeda kayuh melewati Jl. KH Wahid Hasyim yang saat itu masih sesak. Ketika akan melewati Bioskop Plaza, entah mengapa tiba-tiba mata ini melirik ke sebuah baliho besar yang terpampang. Padahal, biasanya saya enggan sekali. Karena memang, biasanya bioskop satu-satunya di kota Jombang ini hanya memasang baliho film dedemit lokal yang amit-amit. Tapi malam itu tidak, Sobat … Karena ….

Wow! KCB sudah sampai di Jombang! Pekik saya dalam hati.

Hati punya saya ini tak tentu langsung berhambur terasa … eh maksud saya … Hati saya langsung berhambur tak tentu … Tuh kan .. jadi belepotan ….

Biasanya saya yang paling malas berangkat ngaji. Malam itu tidak, Sobat. Saya tak sabar menunggu besok untuk menyaksikan langsung KCB. Saking tak sabarnya, sepulang mengaji, saya memaksa Akh Farid untuk menemani saya melihat jadwal pemutaran KCB di Plaza. Kami gagal menemukannya, karena memang saat itu nyaris jam 12 malam teng.

Esoknya, hanya bermodal ingatan pas-pasan. Karena seingat saya, Bioskop Plaza diputar jam 3. Setelah dari tempat saya bekerja (SDN Tugukepatihan I Jombang), saya langsung meluncur ke Plaza. Tepat jam 3 sore ketika itu. Sesampai di Plaza ternyata KCB telah diputar. Dengan napas yang masih ngos-ngosan, saya meraba-raba mencari tempat duduk. Tentu saja saya kecewa karena beberapa penggal telah terlewat. Padahal katanya, di awal film KCB ini banyak menyajikan suasana Mesir lengkap dengan keindahannya. Tapi tak apa, karena saya masih menemukan Ust. Musjab saat muncul dari balik selambu pintu … he … he … Wow! Ini kejutan! Saya baru tahu, ternyata Kang Abik sendiri lah yang memerankan Ust. Mujab. Akting Kang Abik tak kalah dengan Ust. Deddy Mizwar. Mantabbb …

Banyak hal mengesankan yang dapat saya temukan di film KCB ini. Berikut adalah beberapa yang sempat terekam dalam benak saya:

Abdullah Khairul Azzam (Cholidi Asadil Alam). Tak salah kiranya jika Kholidi terpilih untuk memerankan Azzam. Sosok yang kalem. Kebapakan. Berwibawa. Senyum menawan. Lengkap dengan logat Jawa yang lumayan kental. Kholidi memamerkan kekuatan akting yang mendalam saat marah ketika tahu ada orang tak dikenal (Wail) yang numpang nginap di apartemennya. Tegas dan berkelas! Tak seperti di sinetron Indonesia umumnya yang men-shoot jarak dekat ke face aktornya saat adegan marah dan geram. Sampai-sampai, saking ngedennnya, wajah aktor terlihat menceng dibuat-buat … he … he …

Juga saat Azzam berdiri memandang ke arah laut lepas (atau mungkin sungai Nil?) sekembali dari Ust Mujab. Kesedihannya mengalun sendu bersama musik yang berpadu dengan keindahan kota Mesir di malam hari. Klop banget.

Adegan tersebut mengingat saya pada Fahri di film Ayat-ayat Cinta. Fahri yang saat itu di tepi sungai Nil sebelum Maria datang menghampirinya.

Sayangnya, adegan Azzam di tepi sungai Nil tersebut terasa sangat singkat. Padahal momen itu adalah kesempatan untuk mengaduk-aduk perasaan penonton. Terlebih scoore yang mengirinnya juga pas. Tapi kekecewaan saya terbayar karena kesedihan Azzam telah terapresiasi saat Azzam membaca Al Qur’an di masjid setelahnya.

Pertemuan Azzam dengan Anna tuk pertama kalinya terjadi dalam bus yang membawa Azzam ke pasar Sayyeda Zaenab. Uniknya, dialog perkenalan awal mereka nyaris sama saat Maria menyapa Fahri dalam bus di film AAC …. ”… anta Andonesi?”

Anna Althafunnisa (Oki Setiana Dewi). Andai saya bisa bertemu dengan Oki, saya pasti akan memakinya habis-habisan …

Keanggunannya itu lho … Bikin saya tak bisa tidur beberapa hari ini. Saya pun masuk angin jadinya.

Sebenarnya Anna tak hanya anggun dan santun, tapi juga ngalem. Itu terlihat saat KH. Lutfi Hakim (Ust. Deddy Mizwar), ayah Ana, ingin mengajukan pertanyaan ke Anna. Dengan tak bergeming dari laptopnya, Anna menjawab dengan ngalem-nya ”Ya monggo …” Ih, nggemesin banget … Ngalem puol … Saya suka itu!

Kedua, akting Anna juga perfect saat prosesi lamaran Furqon di rumah Kyai Lutfi. ”Saya ingin seperti Fatimah Az-Zahra, putri Kanjeng Nabi yang tak pernah dimadu oleh Sayyidina Ali …” Air matanya pun meleleh ….

Anna juga menjelaskan bagaimana ia menganalogkan poligami seumpama jengkol. Jengkol tak diharamkan, tapi banyak orang yang tak menyukainya. Ini seolah menjawab tuntas film AAC yang menyisakan polemik poligami.

Eliana Pramesthi Alam (Alice Nourin). Eliana terlihat mmhm …. cantik sekali … saat menggunakan gaun Kimono modifikasi di ulang tahunnya. Sayangnya saya ketinggalan saat Eliana mengenakan berjilbab.

Hal yang terasa sedikit mengganjal saat salah satu stasiun TV memperlihatkan adegan Eliana yang tengah berlari di sebuah sinetron. Adegan tersebut diulang sedikitnya dua kali dalam film ini.

Cut Tiara (Tika Putri). Lagi-lagi hati ini berbunga-bunga melihat Tika Putri berjilbab. Cuantik banget … Aktingnya pun tak diragukan lagi. Terlebih saat Tiara menceritakan pada Cut Mala perihal pernikahannya dengan Ust. Zulkifli. Air mata saya pun nyaris berderai.

Fadhil (Lucy Perdana). Air mata saya benar-benar tumpah saat Fadhil menyanyikan lagu dari Aceh ”Saleum” di pesta pernikahan Cut Tiara dan Ust. Zulkifli. Inilah klimaks film ini. Bagian inilah yang paling mengesankan di film ini. Seperti kita tahu, Salah satu kekuatan cerita dalam novel KCB #1 adalah kisah cinta Fadhil dan Cut Tiara. Tuntutan itu tersaji dengan baik dalam film ini.

Furqon Andi Hasan (Andi Arsyil Rahman). Meski kemampuan aktingnya biasa-biasa saja, Furqon memiliki wajah yang Korea banget. Kuereen …

Ayatul Husna (Meyda Safira). Meyda memerankan Husna dengan baik. Sosok yang mandiri, anak sulung yang bertanggung jawab, tapi tetap curly …. Top banget! Akting Meyda terlihat matang di akhir film, yakni ketika Husna menjemput Azzam di bandara. Ekspresi kerinduan yang mendalam dari seorang adik kepada kakaknya tergurat sempurna di wajahnya.

Sayangnya, mengapa warna motor matic yang Husna pakai di awal pemunculannya tidak sama dengan saat Ana bertamu di rumah Husna?

Akhirnya, film yang menandai comeback-nya Choirul Umam di dunia perfilman Indonesia ini sangat layak mendapat 9,5 bintang dari 10 bintang dari kategori film yang wajib ditonton! Salut!

Jika Ingin, Katakan!

Sketsa 1430 atau 2009

Jika Ingin, Katakan!

– sebuah refleksi tahun baru –

(Sumber: Majalah Donatur UMMUL QURO LP-UQ Jombang,

Edisi 60/Th.9/Januari 2009)

Insya Allah telah 1430 tahun yang lalu terjadi momentum sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW. Mungkin telah 2009 tahun yang lalu Al Masih putera Maryam yaitu Nabi Isa AS dilahirkan. 1430 atau 2009 hanyalah angka. Agak unik karena hari pertama keduanya hanya selisih dua hari saja. Namun ia hanyalah penambahan waktu dari usia dunia. Lalu, apa yang penting dengan saat pergantian tahun ini?

Jika diri kita sempat merenung sejenak, menggambar sketsa diri untuk waktu esok, maka hikmahnya akan memperbaiki kesalahan dan kelemahan diri, kemudian melengkapinya lebih sempurna dengan kekuatan baru, semangat baru dan optimisme baru untuk mewujudkan kesuksesan meraih cita-cita kita.

Ya, sketsa hidup kita harus lebih baik di waktu-waktu mendatang.

Jika ingin, katakanlah, ”Aku harus kaya!” Maka garis-gariskan sketsa yang menggambarkan kejujuran, keberanian untuk sukses, perencanaan dan perhitungan cerdas, komunikasi akrab, kerja keras dan tuntas, dan kepedulian.

Jika ingin, katakanlah, ”Aku harus menjadi pemimpin!” Maka coretkan sketsa dengan kuat arti keikhlasan, tawadlu, semangat juang, kecerdasan, keteladanan, ketegaran, optimisme, dan kesabaran.

Jika ingin, katakanlah, ”Aku harus masuk surga!” Maka guratkan sketsa bermakna penghambaan, pengorbanan, hidup fi sabilillah, syahid khusnul khotimah, dan seluruh coretan ’kebaikan-kebaikan dari firman-Nya’.

1430 atau 2009 bukan angka tanpa makna. Karena Allah SWT telah menghitung berapa usia kita. Apakah benar hati ini mengatakan bahwa kita sepanjang waktu mengimani-Nya?

Adakah amanat harta dan kenikmatan dunia yang dititipkan-Nya membelenggu tangan kita untuk bersedekah sebagai hak para dhuafa?

Mungkinkah jasad ini terlena karena keindahan dan kekuatannya hingga lupa sujud syukur sampai ia memutih dan lemah?

Masih ada waktu untuk hijrah seperti perjuangan hijrah Rasulullah Muhammad SAW.

Masih ada waktu untuk ’lahir’ kembali seperti makna lahirnya Nabiyullah Isa AS. Wallahu’alam.

* * *

Wedding of The Year

Wedding of The Year


a-huzafa-vs-siti-sholichatin

Pagi itu. Embun masih enggan menitik dari ujung-ujung daun padi yang terhampar luas di Desa Kalikalong, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Tepat di hari Ahad, 28 Desember 2008. Atau bertepatan di hari terakhir di tahun 1429 H. Sebuah rumah warga telah diwarnai dengan rangkaian kesibukan di pagi yang membahagiakan itu.

Riwa-riwi panitia sibuk mempersiapkan segala hal untuk acara yang sangat spesial dan sungguh dinanti itu. Dan yang paling terlihat aktif adalah Akhi Bajuri. Ia bersama seorang akhwat dari Solo yang juga istimewa, berkoordinasi jenius dan profesional demi lancarnya prosesi penuh berkah itu, yakni sebuah akad nikah yang dilanjut Walimatul Ursy.

Pesta pernikahan sederhana, tapi cukup menggharukan itu berlangsung mulai pukul 10 pagi. Diawali akad nikah berupa ijab qabul dengan mahar membaca Surah Ar-Rahman dan sebuah buku yang ditulis sendiri oleh mempelai pria untuk sang bidadarinya.

Suasana bertambah khidmat ketika mempelai pria membaca Surah Ar-Rahman. Suaranya yang merdu mendayu membuat seluruh hadirin larut dan terharu biru. Saya cukup beruntung karena dapat melihat langsung prosesi tersebut. Lewat kamera yang saya arahkan pada kedua mempelai, saya dapat melihat bulir air mata yang menitik dari mata mempelai wanita. O, betapa mengharukan ….

Sementara itu. Dalam tausiyah nikah, KH. Habiburrahman El Shirazy, Lc. Memberikan 4 bekal untuk kedua mempelai. Keempat 4 bekal tersebut adalah bantal, kloso, kayu dan lengo. Tentu saja 4 bekal itu bukan sembarang bekal. Melainkan 4 filosofi Jawa yang mujarab dan kesohor manjur adanya.

Saya tak dapat menjelaskan panjang lebar di sini. Tapi kira-kira begini. Bantal berarti jika ada beban, siapkan mental. Kloso adalah klop (satu visi) dan rumongso (sadar diri dan care). Kayu tak lain adalah terbuka dan ngguyu. Lek bojomu menteleng, lungo’o, begitu kata Kang Abik mendifinisikan Lengo.

Inilah pernikahan itu. Pernikahan General Manager Pesantren Basmala Indonesia, Ust. Kasmijan, S.Pd.I alias A. Huzafa El Sahmi Vs. Siti Solichatin.

Barakallahu lak wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fil khoir …

* * *



Resensi Film Wall-E

Tempat Sampah Itu Bernama BUMI

wall-e

wall-e-eve

wall-e-first-date

Tak mengherankan kiranya jika themovieblog.com menempatkan film animasi ini pada urutan pertama di 10 film terbaik hingga pertengahan tahun 2008.

Film science fiction besutan sutradara Angus MacLane ini memang sengaja memamerkan kelembutan grafis hasil kerja keras tim animator di studio Pixar. Sebagaimana yang pernah diungkapkan Angus bahwa dengan film ini para animator di studio tersebut mendapat kesempatan untuk memamerkan talenta mereka.

Bahkan di bagian pembuka, Wall-E hanya menyuguhkan adegan tanpa dialog sepanjang 40 menit. Hanya menggambarkan bumi yang telah tertutup sampah dan sebuah robot kumuh yang ‘riwa-riwi’ sedang mem-packing sampah. Sesekali terdengar robot tersebut menggerutu sendiri. Tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim Pixar untuk membuatnya jadi tak membosankan. Dan terbukti mereka sukses melakukannya.

Film ini mengisahkan robot mungil, kuno nan kumuh yang bernama WALL-E (Waste Allocation Load Lifter-Earth-Class) yang bertugas membersihkan bumi dengan cara mem-packing sampah-sampah yang berserakan. Hingga suatu ketika sebuah agen bernama Eve yang ditugaskan untuk mencari sebuah tanaman yang masih hidup di bumi. Wall-E pun seketika langsung jatuh cinta pada Eve yang bernampilan mulus tersebut. Seperti halnya karakter agen wanita dalam film lain pada umumnya, sosok Eve di sini juga dingin, cuek, acuh, dan super jutek.

Meski hanya robot, tim Pixar mampu melekatkan karakter yang kuat pada Wall-E. Sebagaimana orang sedang jatuh cinta pada umumnya. Terlebih ketika Eve “membeku” setelah ia menemukan tanaman yang dicarinya. Wall-E berusaha mati-matian untuk membangunkan Eve. Kesempatan itu pun tak Wall-E sia-siakan untuk berkencan dengan Eve. Bahkan, mereka sempat melangsungkan ”pernikahan” di senja hari. Adegan ini terasa semakin romantis saat tim Pixar menambahkan iringan musik first date yang unik garapan Thomas Newman.

Setelah beberapa hari “membeku”, Eve pun ditarik kembali ke pesawat karena telah menyelesaikan tugasnya. Wall-E yang menganggap kekasihnya telah diculik, maka ia pun nekat ‘gandol’ di pesawat induk tersebut. Hingga mereka tiba di sebuah pesawat induk bernama AXIOM.

Dikisahkan bahwa penduduk bumi tinggal di AXIOM untuk sementara waktu, selama robot pembersih bumi bekerja. Hingga bumi benar-benar bersih kembali. Dan diperkenankan kembali ke bumi saat ditemukan tanaman tumbuh di bumi. Tapi karena sampah-sampah di bumi telah melebihi ambang batas, maka manusia pun tidak diperkenankan kembali ke bumi.

Dengan program B & L alias Buy and Large, manusia yang tinggal di AXIOM dimanjakan dengan berbagai fasilitas. Bahkan, mereka tak perlu berjalan kaki. Hingga membuat bobot mereka pun berlimpah. Dari tahun ke tahun, kondisi mereka selalu ”monoton” baik.

Beralasan karena kondisi bumi yang tak layak huni lagi, maka sistem otomatis AXIOM berusaha menggagalkan program kembali ke bumi tersebut. Bosan dan rasa penasaran sang kapten tentang bumi yang membawanya ingin kembali ke bumi. Tentu saja hal itu membuatnya harus melawan asisten robotnya sendiri. Inilah pesan moral terbaik dari film ini. Dimana ketergantungan pada teknologi tak selamanya baik. Dan tentu saja tentang menjaga kelestarian bumi.

* * *

Red Cliff

Red Cliff:

Perang Strategi di Karang Merah

red_cliff01

Adegan yang paling menggelitik di film yang dibagi menjadi dua sekuel ini yakni tatkala Zhuge Liang (Takeshi Kaneshiro) membantu persalinan seekor kuda milik istri Zhou Yu (Tony Leung). Rupaya itu juga bagian dari teknik negosiasi Zhuge Liang untuk menarik simpati panglima perang Zhou Yu, agar dapat bergabung dengan Liu Bei (Yong You) untuk bergabung melawan perdana menteri Cao Cao (Zhang Fengyi) yang terkenal bengis.

Sebelumnya, Zhuge Liang dibuat terkesima oleh kecerdasan dan sikap bijaksana Zhou Yu pada beberapa prajuritnya yang kedapatan mencuri kerbau milik penduduk.

Saya pikir, tak ada film silat yang dapat menandingi Hero karya Zhang Yimou. Tapi alibi saya terbantahkan setelah melihat film yang disebut-sebut menandai come-back ­­nya John Woo ke Hongkong ini.

Red Cliff bercerita ketika Dinasti Han yang dibawah kepepimpinan kaisar muda Xian (Wang Ning) yang tak bisa berbuat banyak dan selalu mengikuti bujukan perdana menteri Cao Cao untuk menyerang Liu Bei dan Sun Quan (Chang Chen) di bagian Selatan Cina. Dengan alasan, keduanya berusaha untuk merebut kekuasaan sang kaisar.

Di bagian awal, Red Cliff menggambarkan bagaimana kecerdikan Zhuge Liang, sang desainer perang, untuk melawan gempuran pasukan Cao Cao di pertempuran Changban. Yakni dengan menggunakan perisai yang dapat memantulkan silau sinar matahari ke arah pasukan Cao Cao. Taktik perang itu lumayan berhasil untuk menghambat serangan. Tapi akhirnya Liu Bei beserta anak buahnya pun tetap mundur dan menyelamatkan diri.

Untungnya Zhang Fei (Zang Jinsheng) dan pasukannya datang untuk membantu Liu Bei. Dengan bantuan Zhang Fei, rombongan Liu Bei berhasil meloloskan diri dari kepungan tentara Cao Cao walaupun Liu Bei harus kehilangan istrinya dalam pertempuran ini.

Kemudian Liue Bei mengutus Zhuge Liang untuk bernegosiasi ke Sun Quan (Chang Chen). Ia bertemu dengan penasehat utama Sun Quan, Zhou Yu. Zhuge Liang pun berhasil membujuk Zhou Yu untuk bergabung bersam Liu Bei untuk malawan Cao Cao. Padahal negosiasi mereka hanya berlangsung lewat adu petikan sitar belaka. Adu peran yang memukau pun tergambar di sini. Lalu giliran Zhou Yu yang meyakinkan penguasa Wu, Sun Quan, untuk bergabung melawan Cao Cao.

Lanjut Baca »

Kabhi Alvida Naa Kehna

Never Say Goodbye …

kabhi-alvida-naa-kehna-2

kabhi-alvida-naa-kehna-3

Setelah sukses dalam Kuch Kuch Hota Hai (KKHH) pada tahun 1998 dan Kabhie Khushi Kabhie Gam (KKKG) di tahun 2001, Karan Johar sekali lagi membuat kagum seantero penggemar film Bollywood. Jika KKHH mengajarkan kita tentang trisno jalaran saka kalina alias persahabatan dan cinta, sedangkan KKGM membuat kita merasa berdosa manaka mendurhakai kedua orang tua, maka Kabhi Alvida Naa Kehna (KANK) me-wanti-wanti kita agar selalu menjaga keutuhan tali pernikahan dan jangan coba-coba menjalin keakraban di luar pernikahan.

KANK bersetting di New York. Lengkap dengan kehidupannya yang glamor. Sayangnya, tak banyak adegan yang bersetting musim dingin dan salju di film ini. Andai porsinya lebih banyak, mungkin bisa se-dahsyat Drama Korea Winter Sonata. Juga nuansa India yang selalu Karan Johar tonjolkan di film-filmnya, sedikit menipis di KANK.

Bermula ketika Dev Saran (Shahrukh Khan), seorang pemain bola yang karier baru melejit, berkenalan dengan Maya Talwar (Rani Mukerji) di pernikahan Maya. Dev menemukan Maya di bangku taman menjelang pernikahannya. Maya yang saat itu sedang mengalami sindrom sebelum pernikahan, akhirnya mendapat nasihat yang berarti dari Dev. Tapi mereka tak menyadari, bahwa mereka baru saja menyemai benih konflik dalam kehidupan mereka sendiri. Terlebih saat Dev mengucapkan selamat tinggal dan meminta Maya untuk segera melangsungkan pernikahannya, Maya malah berkata jangan ucapkan selamat tinggal, melenyapkan harapan untuk bertemu kembali, dan mungkin kita akan bertemu lagi…

Setelah itu, muncul tampilan credit screenplay, associate director, dst. Cara Karan Johar dan timnya menempatkan credit tersebut sangat pas dan indah sekali. Padahal film telah dimulai beberapa menit sebelumnya. Kemudian terdengar lagu syahdu. Berikut lirik indahnya.

Luangkan waktu yang terindah bersamaku.

Rasanya ini seperti mimpi saja.

Mungkin kita akan bertemu lagi.

Kau jangan berkata selamat tinggal.

Jangan penah berkata selamat tinggal.

Dan … bruakkk … sebuah mobil menabrak Dev ketika ia keluar dari gerbang tempat resepsi pernikahan Maya. Kecelakaan itu membuat Dev mengakhiri kariernya sebagainya pemain bola. Lalu Dev memilih menjadi pelatih bola dan keluyuran di lapangan bola. Sementara itu, Rhea (Pretiy Zinta), istri Dev, adalah seorang model yang smart dan modern yang kariernya terus meroket di majalah mode. Kesibukan dan padatnya aktivitas Rhea, membuatnya jarang meluangkan waktu untuk keluarga, terutama untuk anak laki-laki mereka. Dev yang cacat tak bisa berbuat banyak, Rhea lah yang berperan sebagai nahkoda rumah tangga. Semakin hari, hubungan mereka semakin kering.

Sementara itu, Maya yang menikah dengan Rishi (Abhishek Bachchan), juga merasa bahwa ia tak mencintai Rishi. Padahal Maya tahu bahwa Rishi sangat mencintainya. Mereka selalu gagal memperbaiki hubungan. Baik fisik maupun emosi. Terlebih Maya belum dapat memberi keturunan.

Di saat rumah tangga mereka menghadapi masalah yang sama, Dev dan Maya kembali bertemu, setelah pertemuan awal mereka menjelang hari pernikahan Maya. Sebuah pertemuan yang menyisakan kesan mendalam bagi keduanya.

Perasaan senasib dan tersisih, membuat Dev dan Maya menjadi semakin akrab. Awalnya mereka hanya saling curhat dalam rangka mengembalikan keharmonisan rumah tangga mereka. Tapi kedekatan itulah yang membuat mereka saling jatuh cinta dan dan merasa hidup mereka kembali.

Awalnya saya menduga, Rishi dan Rhea yang memiliki karakter nyaris sama, juga melakukan perselingkuhan seperti yang dilakukan Dev dan Maya. Tapi ternyata Rishi dan Rhea cuma berteman biasa. Sementara itu, Amitha Bachchan yang berperan sebagai Tuan Talwar alias Ayah Rishi, adalah sosok playboy tua yang suka berkencan dengan wanita-wanita molek.

Berikut lirik lagu Tumhi Dekho Na, ketika Dev dan Maya bertemu di stasiun kereta api:

Tahu kapan kita di sini?

Aku milikmu dan kau milikku

Aku tertegun pada saat ini

Ketika sinar rembulan bersinar di siang hari

Rasanya aku terjaga, tapi aku bermimpi

Oh, juwita hatiku …

Tahu kapan kita di sini?

Aku milikmu dan kau milikku

Jiwa yang memabukkan dan tubuh seharum kasturi

Tedapat kemurnia di udara ini

Saat ini kita bersatu dan terlihat warna-warni

Air matamu berlinang

Langit nan biru membasahi diri kita

Pantulan sinarnya terlukis bagai sutera

Tahu kapan kita di sini?

Aku milikmu dan kau milikku

Aku tertegun pada saat ini

Ketika sinar rembulan bersinar di siang hari

Seakan aku orang bodoh yang sangat berbahagia

Yang cintanya tak terkekang

Cinta dan perasaan memang nyata

Yang lainnya hanyalah khayalan

Hatiku perlahan-lahan mengalun irama cinta

Tahu kapan kita di sini?

Aku milikmu dan kau milikku

Aku tertegun pada saat ini

Ketika sinar rembulan bersinar di siang hari

Rasanya aku terjaga, tapi aku bermimpi

Oh, juwita hatiku …

Dan puncaknya adalah ketika mereka sama-sama berbohong tentang perceraian mereka. Setelah Maya mengakui perselingkuhannya dengan Dev di hadapan Rishi, Maya mengatakan bahwa Rishi akan memaafkannya seiring waktu. Begitu juga kata Dev, Rhea akan memaafkannya seiring waktu. Padahal mereka bercerai. Dev dan Maya pun berpisah dengan hamburan air mata dan balutan dinginnya salju.

Lagi-lagi saya harus menyembunyikan air mata saya ketika menonton KANK. Alurnya yang tertata rapi, dialog-dialognya yang menyentuh, akting yang memukau, dan tentu saja lagu-lagu syahdunya. Tercatat ada tiga lagu berbeda tetapi disela-selai dengan iringan musik yang sama. Dan itu menjadi semacam rhytem film ini.

Berikut lirik lagu yang menjadi pengiring perpisahan mereka, sekaligus menjadi song theme film ini:

Hanya hatimu yang tahu,

dan juga hatiku

Dan jalan hidup kita akan berpisah

Aku berpisah jauh entah ke mana

Jangan pergi dari kenanganku

Jangan pernah ucapkan selamat tinggal

Semua kegembiraan hidup berlalu perlahan-lahan

Hanya duka hati yang tak mau pergi

Aku berusaha untuk menangis dan tertawa

Tapi hati ini tak merasa tenang, tak merasa tenang

Ini cucuran air mata atau bara api

Tidak, ini percikan api yang mengalir dari mataku

Jangan pernah ucapkan selamat tinggal

Jangan pernah ucapkan selamat tinggal

Musim silih berganti,

tapi musim duka menetap

Bayangan duka sangat dalam

dan akan makan waktu untuk mereda

Tak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya

Siapa tahu, apa kita yang harus menanggung

Jangan pernah ucapkan …

Jangan pernah ucapkan selamat tinggal

Jangan pernah ucapkan selamat tinggal

Hanya hatimu yang tahu dan juga hatiku

Dan jalan hidup kita akan berpisah

Akan berpisah jauh entah ke mana

Janganlah pergi dari kenanganku

Jangan pernah ucapkan selamat tinggal

Jangan pernah ucapkan selamat tinggal

Jangan pernah ucapkan selamat tinggal

KANK mengajari kita tentang sebuah cinta, janji, pernikahan dan persahabatan. Apa yang akan Anda lakukan jika harus menikah dengan seseorang yang tidak Anda cintai? Akankah sebuah ikatan harus dikorbankan demi seseorang yang Anda yakini sebagai takdir Anda? Mampukah kebahagiaan bertahan dalam sebuah kepalsuan? Mampukah persahabatan mengganti cinta dalam sebuah pekawinan? Masih adakah kesempatan kedua dalam sebuah perkawinan? Sederet tanya yang menggugah emosi dan membawa Anda menuju klimaks yang mengejutkan.

Begitulah yang ditulis Kapanlagi.com dalam kolom resensinya. Mungkin benar adanya. Tapi mungkin juga tak selamanya benar. Wallahu ’alam. Karena saya sendiri belum pernah menikah. Dan tentu saja, semoga pernikahan saya nantinya penuh berkah, dan terhindar dari hal-hal buruk yang seperti Dev dan Maya alami. Amin.

* * *

Vantage Point

Resensi Vantage Point :

1 Peristiwa 8 Sudut Pandang

dennis_quaid_in_vantage_point

Lebih dari satu jam, film ini ini hanya menceritakan tentang presiden AS Henry Ashton yang tertembak di depan Hotel Plaza Mayor, Salamanca, Spanyol. Hanya saja peristiwa tersebut terekam dalam 8 orang lengkap dengan sudut pandangnya masing-masing. Dan butuh 6 kali flashback dari peristiwa tersebut untuk menjelaskan tentang peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Bermula ketika pukul 12.00 siang. Terlihat iringan rombongan mobil yang membawa Presiden Henry Ashton menghadiri KTT di depan Plaza Mayor, Salamanca. Ia dikawal secara khusus oleh Thomas Barnes (Dennis Quaid) yang traumatis peristiwa penembakan presiden di masa silam. Barnes melihat sesuatu yang aneh di balik salah satu jendela yang lurus ke arah podium. Dan tembakan itu pun terjadi. Presiden terkapar. Kemudian disusul ledakan dahsyat. Kejadian ini disajikan dalam sudut pandang jurnalis senior (Sigourney Weaver) dan para kru liputannya.

Lalu film flashback lagi pada rombongan mobil presiden yang menuju Plaza Mayor. Hanya saja kali ini dari sudut pandang agen Barnes. Kemudian flashback kembali dengan sudut pandang Enrique (Eduardo Noriega), Howard Lewis (Forest Whitaker), Henry Ashton, dan point of view terakhir dari teroris itu sendiri.

Flashback dengan sudut pandang yang berbeda tersebut menyingkap peristiwa demi peristiwa yang sebenarnya terjadi dalam insiden penembakan itu. Termasuk partner Barner, agen Kent Taylor (diperankan si tampan Matthew Fox) yang menjadi secret service presiden padahal sebenarnya adalah teroris. Juga tentang kembaran presiden Ashton.

Ada beberapa hal yang terasa menganjal di film ini. Misalnya sosok Enrique yang memang polisi yang bertugas untuk melindungi walikota ataukah teroris yang sedang menyamar? Lalu ”sutradara” aksi penembakan (Said Taghmaoui) yang rela membanting stir mobilnya hingga terjungkal lantaran menghindari Anna, gadis kecil yang berada di tengah jalan. Padahal mobil itu tengah membawa presiden hasil culikannya Teroris yang aneh!

Terlepas dari usaha menampilkan kejutan yang tak terduga, film ini menampilkan ketegangan yang terjaga baik hingga menjelang akhir cerita.

* * *

matthew_fox_in_vantage_point

ayelet_zurer_in_vantage_point


D-War

Resensi Film:

D-War

d-war3

Film fiksi Korea arahan sutradara Shim Hyung-rae ini bisa dibilang hanya memamerkan spesial effect saja. Sementara alur cerita, kekuatan karakter dan dialognya terabaikan. Janggal, aneh dan lemah. Bahkan terkesan tak realistis.

Film berdurasi 90 menit ini bercerita tentang Imoogi (ular raksasa) yang konon dalam mitologi Korea, dalam setiap 500 tahun sekali dapat menjadi naga dan penguasa dunia jika melakukan kebaikan. Hanya dengan menelan Yuh-yi-joo (mutiara ajaib) yang terletak dalam tubuh gadis yang bertato naga semenjak lahir.

Alkisah. Narin, seeorang gadis kecil di korea yang ”ditakdirkan” menyimpan Yuh-yi-joo tersebut. Bochun, seorang petapa sakti beserta muridnya, Haram, ditugaskan untuk melindungi gadis kecil itu hingga berumur 20 tahun. Karena saat gadis tersebut berumur 20 tahun itulah, seekor Imoogi jahat berusaha merebut Yuh-yi-joo ini dengan cara membunuh si gadis. Bochun dan Haram-lah yang bertugas melindungi gadis tersebut. Sayangnya, Haram malah jatuh cinta kepada Narin. Akhirnya, Haram membawa Narin kabur dan mati bersama.

500 kemudian. Alias di zaman modern ini. Seperti film asia klasik lainnya, film ini juga tak lepas dari mitos reinkarnasi, kehidupan masa lalu, titisan atau semacamnya. Narin, Haram dan Bochun menitis pada 3 orang di Los Angeles. Ketiganya bertemu untuk melawan Imoogi jahat yang muncul di tengah kota.

Sarah Daniels (Amanda Brooks) adalah titisan gadis bertato naga di bahunya. Sementara Ethan Kendrik (Jason Behr), adalah seorang wartawan titisan Haram. Mereka pun saling jatuh cinta. Padahal pertemuan mereka belum lama. Seolah mereka jatuh cinta hanya karena kehidupan masa lalu. Cinlok yang aneh!

Duel dua Imoogi pun terjadi. Akhirnya, Ethan ”mengikhlaskan” Sarah untuk dikorbankan pada Imoogi baik agar berubah menjadi naga, sehingga dapat membunuh Imoogi jahat.

Meski mendapat banyak kritikan, spesial effect film ini cukup tergarap baik. Tak kalah menakjubkan dibanding dengan Godzilla. Terlebih saat Imoogi jahat memporak-porandakan kota LA untuk memburu Sarah. Sayagnya, duel Imoogi baik dan Imoogi Jahat tak berlangsung di tengah kota.

* * *

Miss Potter

Resensi Film Miss Potter

Ketika Penulis Jatuh Cinta

miss-potter-1

miss-potter-2

“Ada sesuatu yang lezat saat menulis kata-kata pertama dalam sebuah cerita. Kau tidak akan pernah bisa tahu kemana itu akan membawamu …”

Film ini secara pribadi mengajarkan pada saya tentang meraih mimpi. Meski banyak hal yang tak baik merintangi, tapi mimpi itu harus terjadi. Mimpi. Keinginan. Cita. Harus tetap terbuntal rapat dalam semangat.

Meski Miss Potter bukan film pertama yang berkisah tentang Beatrix Potter. Karena sebelumnya, di tahun 1971 telah dirilis film musikal The Tales of Beatrix Potter yang disutradari Reginald Mills. Dan di tahun 1982, BBC memproduksi The Tale of Beatrix Potter yang disutradarai oleh Bill Hayes.

Miss Potter menceritakan kisah hidup Helen Beatrix Potter. Ia adalah seorang penulis wanita, pengarang, ilustrator, serta konservasionis yang sangat mencintai alam. Chris Nonaan, sang Sutradara, tepat sekali meminta Renee Zelweger untuk memerankan Beatrix Potter. Mengingat Beatrix dan Renee memiliki postur yang sama mungilnya.

Akting aktris peraih Oscar ini sangat memukau. Renee memerankan Potter yang pipinya selalu merona kemerahan. Matanya yang sering berkaca bila hatinya tersentuh. Wanita yang sensi. Rapuh. Serta impulsif. Namun, dibalik kerapuhannya, Potter menyimpan sosok wanita yang tangguh dan penuh semangat. Terbukti saat ia bertekad memenangkan lelang sebuah peternakan Carvin Mill untuk tetap dilestarikan.

Entah mengapa film ini harus dikombinasikan segala dengan rangkaian karakter animasi hasil ciptaan Potter. Seperti Petter Rabit si tuan kelinci. Atau Jemima si bebek kubangan itu. Meski tergores baik, tapi cukup tak membantu film ini sendiri. Mungkin si pembuat film bermaksud ingin menggambarkan imajinasi Potter yang meluap-luap hingga mampu menghidupkan tokoh-tokoh ke dunia nyata.

Miss Potter bercerita tentang wanita dari golongan terpandang yang telah berusia 30 tahun namun belum menikah. Potter selalu menolak lamaran setiap ada lelaki yang melamarnya. Semenjak kecil, Potter menghabiskan waktunya dengan menggambar binatang-binatang hutan yang lucu. Sementara itu, Bertram, adiknya, memiliki hobi yang aneh; menusuk belalang.

Meski telah beranjak dewasa, Potter tak bisa meninggalkan hobinya menggambar binatang. Dan mimpinya untuk menjadi pengarang cerita anak semakin menjadi-jadi. Meski berasal dari keluarga kaya, tapi Potter ingin hidup mandiri dan tak bergantung pada orang tua. Dengan menjadi pengarang cerita itulah Potter ingin membuktikan keberadaannya.

Pertemuannya dengan Norman Warne (Ewan McGregor), adik laki-laki paling bungsu dari Warne bersaudara yang ingin membantu Potter menerbitkan bukunya. Pertemuan demi pertemuan terjadi. Hingga cinta bersemi mereka.

Anda akan tergeli melihat akting Renee yang memerah pipinya setelah Warne mengajaknya berdansa. Matanya yang berhambur air mata bahagia setelah ia melepas kepergian Warne dari jendela rumahnya. Lalu melenggang sendiri sembari memainkan pemutar musik. Tingkah Potter yang malu-malu saat menerima lamaran Warne, serta begitu santunnya Potter menjaga diri dalam bergaul, mungkin selayak muslimah saat jatuh cinta … he … he ….

Sayangnya, kedua orang tua Potter tak merestui hubungan mereka. Ayah dan ibu Potter mengajak putrinya untuk menghabiskan musim panas di District Lake. Tentunya agar keduanya dapat terpisah. Hanya lewat surat, Potter dan Warne dapat saling bercerita. Kemudian Warne menghilang. Sampai akhirnya Potter mengetahui perihal kematian tunangannya itu.

Potter sempat down pasca kematian Warne. Tapi Millie (Emilly Watson), adik Norman Warne selalu menemani Potter melewati kesedihannya. Hingga akhirnya Potter memutuskan untuk membeli tanah dan rumah sendiri di daerah pinggiran yang jauh dari London dari hasil penjualan buku-bukunya.

Kemudian ia menghabiskan sisa waktunya dengan menikahi teman masa kecilnya, William Heelis (Lloyd Owen), yang berpendidikan hukum, meski ibunya tetap tidak merestui pernikahannya.

Meskipun dalam film ini ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan kehidupan Potter yang sebenarnya. Misalnya William Heelis yang sebenarnya bukan pengawas lahan pertanian dan bukan teman masa kecil Potter, bahkan sebenarnya Potter lebih tua dari Heelis. Tapi, semua kejanggalan itu tertutupi dengan pengambilan gambar setting pedesaan dengan areal peternakan dan danau yang sungguh eksotik. Salut!

* * *

Berikut ini adalah biografi Helen Beatrix Potter yang dikutip dari Wikipedia.

Beatrix Potter dilahirkan di Kensington, London pada tanggal 28 Juli 1866. Ia dididik dan belajar di rumah, sehingga ia mempunyai sedikit kesempatan untuk berkumpul bersama teman-teman sebayanya. Bahkan adik laki-laki Potter, Bertram, sangat jarang berada di rumah; dia disekolahkan di sekolah asrama, sehingga Beatrix hanya sendirian bersama hewan peliharaannya. Ia mempunyai katak dan kadal, dan bahkan kelelawar. Ia juga pernah memiliki dua ekor kelinci. Kelinci pertamanya adalah Benjamin, yang ia gambarkan sebagai “benda kecil yang bermuka tebal dan kurang ajar”, sedangkan kelinci keduanya adalah Peter, yang selalu dibawanya ke manapun ia pergi bahkan di dalam kereta api. Potter sering memperhatikan hewan-hewan ini selama berjam-jam dan membuat sketsa mereka. Sedikit demi sedikit, sketsa yang dibuatnya semakin baik, membuat bakatnya berkembang sejak usia dini.

Ayah Potter, Rupert William Potter (1832–1914), walaupun dilatih sebagai seorang advokat (barrister), lebih suka menghabiskan hari-harinya di sebuah perkumpulan dan jarang berlatih. Ibunya, Helen Potter née Leech (1839–1932), anak dari seorang pedagang katun, menghabiskan waktunya untuk mengunjungi atau menerima pengunjung. Keluarga ini disokong oleh pemasukan warisan kedua orang tua mereka.

Setiap musim panas, Rupert Potter menyewa sebuah country house; pertama-tama, Dalguise House di Perthshire, Scotlandia selama sebelas musim panas tahun 1871 sampai tahun 1881, lalu kemudian di Distrik Lake, Inggris. Pada tahun 1882, keluarga ini bertemu dengan seorang vikaris lokal, Canon Hardwicke Rawnsley, yang sangat khawatir tentang efek industri dan turisme pada Distrik Lake. Dia selanjutnya mendirikan National Trust pada tahun 1895, untuk membantu melindungi ini. Beatrix Potter pun jatuh cinta dengan pegunungan yang menjulang dan danau-danau hitam di daerah itu, dan melalui Rawnsley, belajar mengenai pentingnya menjaga keutuhan daerah itu, sesuatu yang akan ia tekuni selama sisa hidupnya.

Ketika Potter beranjak dewasa, orang tuanya menunjuknya sebagai pengurus rumah dan mengurangi pengembangan intelektualnya, mengharuskannya untuk mengurusi rumah. Sejak umur 15 tahun sampai sekitar umur 30 tahun, ia mencatat kehidupan kesehariannya di sebuah jurnal, menggunakan kode rahasia (yang tidak terdekripsi sampai beberapa dekade setelah kematiannya).

Seorang pamannya ingin memasukkannya sebagai pelajar di Royal Botanical Gardens di kota Kew, tapi dia ditolak karena ia adalah wanita. Potter kemudian menjadi salah satu yang mengungkapkan bahwa lumut kerak merupakan hubungan simbiosis antara jamur dan ganggang. Sebagai hasil dari pengamatannya, dia dihormati secara luas di seluruh penjuru Inggris sebagai seorang ahli mikologi. Dia juga mempelajari spora dan daur hidup jamur.

Pada tahun 1897, paper-nya tentang germinasi spora dipresentasikan kepada Linnean Society oleh pamannya, Henry Enfield Roscoe, karena wanita tidak diizinkan mengikuti pertemuan. (Pada tahun 1997, perkumpulan itu mengumumkan permohonan maaf resmi kepada Potter atas cara ia diperlakukan.)

Hal yang mendasari kebanyakan proyek dan ceritanya adalah hewan-hewan kecil yang menyelundup ke dalam rumah atau yang ia amati ketika liburan keluarga di Skotlandia dan Distrik Lake. Dia didorong untuk mempublikasi cerita The Tale of Peter Rabbit, dan ia pun berjuang untuk mencari penerbit sampai ia akhirnya diterima saat berumur 36 tahun pada 1902, oleh Frederick Warne & Co. Buku kecil ini dan karya-karyanya yang lain diterima masyarakat dengan baik dan ia memperoleh pendapatan dari penjualan karyanya tersebut. Dia juga secara rahasia bertunangan dengan si penerbit, Norman Warne, tapi orang tuanya melarangnya menikah dengan seorang pedagang. Pertentangan mengenai pernikahan ini membuat hubungan Beatrix dan orang tuanya renggang. Namun, pernikahan itu tidak juga berlangsung, karena segera setelah pertungangan, Norman jatuh sakit karena pernicious anemia dan meninggal dalam beberapa minggu. Beatrix sangat terpukul. Ia menulis sebuah surat kepada saudara perempuannya, Millie, “Dia tidak berumur panjang, tapi ia memenuhi kehidupan yang bahagia. Saya harus mencoba untuk memulai permulaan baru tahun depan.”

Potter pada akhirnya menulis 23 buku. Buku-buku ini diterbitkan dalam format kecil, memudahkan anak kecil untuk memegang dan membaca. Produktivitasnya untuk menghasilkan karya sastra pun menurun sekitar tahun 1920 karena daya penglihatannya yang menurun. The Tale of Little Pig Robinson diterbitkan pada tahun 1930; walaupun naskah aslinya merupakan salah satu yang pertama kali ditulis, lama sebelum tanggal publikasinya.

Setelah kematian Warne, Potter membeli Pertanian Hill Top di desa Sawrey, Cumbria, Distrik Lake. Ia mencintai bentang alamnya, dan mengunjungi pertanian tersebut sesering mungkin, membicarakan masalah sawahnya dengan manajer pertanian John Cannon. Dengan aliran royalti yang terus-menerus dari buku-bukunya, dia mulai membeli petak-petak tanah di bawah bimbingan William Heelis. Pada tahun 1913 saat berumur 47 tahun, Potter menikah dengan Heelis dan pindah ke Pertanian Hill Top untuk menetap di sana. Sementara pasangan itu tidak mempunyai anak, pertanian tiu terasa hidup dengan banyak anjing, kucing, dan bahkan landak peliharaan.

Ketika orang tua Potter minggal, ia menggunakan warisannya untuk membeli tanah pertanian dan bidang-bidang tanah lagi. Setelah beberapa tahun, Potter dan Heelis pindah ke desa Sawrey, dan Castle Cottage — di mana anak-anak setempat kenal baik akan kesederhanaannya, dan memanggilnya dengan sebutan “Auld Mother Heelis”.

Beatrix Potter meninggal di Castle Cottage di Sawrey tahun 1943. Tubuhnya dikremasi, dan abunya disebar di daerah pinggir kota di dekat Sawrey.

Berdasarkan keinginannya, Potter memberi hampir seluruh kepentingan propertinya kepada National Trust 4.000 are (16 km²) tanah, cottage, dan 15 pertanian. Peninggalannya itu membuat keindahan Distrik Lake tetap tidak terganggu sampai hari ini. Properti miliknya kini ada di Lake District National Park.

Ada beberapa lokasi terbuja untuk umum yang berhubungan dengan Potter, terutama di area Hawkshead dari Distrik Lake, termasuk: (1) Pertanian Hill Top – terbuka untuk umum, tapi untuk pengunjung dengan jumlah terbatas per harinya. Sudah direstorasi persis seperti kondisinya ketika Potter masih tinggal di sana. (2) Beatrix Potter Gallery – di desa Hawkshead, menampilkan beberapa surat original dan karya lukisan. (3)The Beatrix Potter Attraction – menampilkan koleksi model dan hasil karya Beatrix, di kota Windermere. (4) The Beatrix Potter Garden – di Dunkeld House, Perthshire, Scotlandia, sekarang merupakan bagian dari Birnam Institute. (5) The Beatrix Potter Shop – di Gloucester, bangunan ini merupakan dasar penulisan buku The Tailor of Gloucester.

Karya-karya Beatrix Potter diantaranya adalah:

The Tale of Peter Rabbit (1902)

The Tale of Squirrel Nutkin (1903)

The Tailor of Gloucester (1903)

The Tale of Benjamin Bunny (1904)

The Tale of Two Bad Mice (1904)

The Tale of Mrs. Tiggy-Winkle (1905)

The Tale of the Pie and the Patty-Pan (1905)

The Tale of Mr. Jeremy Fisher (1906)

The Story of A Fierce Bad Rabbit (1906)

The Story of Miss Moppet (1906)

The Tale of Tom Kitten (1907)

The Tale of Jemima Puddle-Duck (1908)

The Tale of Samuel Whiskers or, The Roly-Poly Pudding (1908)

The Tale of the Flopsy Bunnies (1909)

The Tale of Ginger and Pickles (1909)

The Tale of Mrs. Tittlemouse (1910)

The Tale of Timmy Tiptoes (1911)

The Tale of Mr. Tod (1912)

The Tale of Pigling Bland (1913)

Appley Dapply’s Nursery Rhymes (1917)

The Tale of Johnny Town-Mouse (1918)

Cecily Parsley’s Nursery Rhymes (1922)

The Fairy Caravan (1929)

The Tale of Little Pig Robinson (1930)

* * *

Tulisan Sebelumnya »