Resensi Film Miss Potter
Ketika Penulis Jatuh Cinta


“Ada sesuatu yang lezat saat menulis kata-kata pertama dalam sebuah cerita. Kau tidak akan pernah bisa tahu kemana itu akan membawamu …”
Film ini secara pribadi mengajarkan pada saya tentang meraih mimpi. Meski banyak hal yang tak baik merintangi, tapi mimpi itu harus terjadi. Mimpi. Keinginan. Cita. Harus tetap terbuntal rapat dalam semangat.
Meski Miss Potter bukan film pertama yang berkisah tentang Beatrix Potter. Karena sebelumnya, di tahun 1971 telah dirilis film musikal The Tales of Beatrix Potter yang disutradari Reginald Mills. Dan di tahun 1982, BBC memproduksi The Tale of Beatrix Potter yang disutradarai oleh Bill Hayes.
Miss Potter menceritakan kisah hidup Helen Beatrix Potter. Ia adalah seorang penulis wanita, pengarang, ilustrator, serta konservasionis yang sangat mencintai alam. Chris Nonaan, sang Sutradara, tepat sekali meminta Renee Zelweger untuk memerankan Beatrix Potter. Mengingat Beatrix dan Renee memiliki postur yang sama mungilnya.
Akting aktris peraih Oscar ini sangat memukau. Renee memerankan Potter yang pipinya selalu merona kemerahan. Matanya yang sering berkaca bila hatinya tersentuh. Wanita yang sensi. Rapuh. Serta impulsif. Namun, dibalik kerapuhannya, Potter menyimpan sosok wanita yang tangguh dan penuh semangat. Terbukti saat ia bertekad memenangkan lelang sebuah peternakan Carvin Mill untuk tetap dilestarikan.
Entah mengapa film ini harus dikombinasikan segala dengan rangkaian karakter animasi hasil ciptaan Potter. Seperti Petter Rabit si tuan kelinci. Atau Jemima si bebek kubangan itu. Meski tergores baik, tapi cukup tak membantu film ini sendiri. Mungkin si pembuat film bermaksud ingin menggambarkan imajinasi Potter yang meluap-luap hingga mampu menghidupkan tokoh-tokoh ke dunia nyata.
Miss Potter bercerita tentang wanita dari golongan terpandang yang telah berusia 30 tahun namun belum menikah. Potter selalu menolak lamaran setiap ada lelaki yang melamarnya. Semenjak kecil, Potter menghabiskan waktunya dengan menggambar binatang-binatang hutan yang lucu. Sementara itu, Bertram, adiknya, memiliki hobi yang aneh; menusuk belalang.
Meski telah beranjak dewasa, Potter tak bisa meninggalkan hobinya menggambar binatang. Dan mimpinya untuk menjadi pengarang cerita anak semakin menjadi-jadi. Meski berasal dari keluarga kaya, tapi Potter ingin hidup mandiri dan tak bergantung pada orang tua. Dengan menjadi pengarang cerita itulah Potter ingin membuktikan keberadaannya.
Pertemuannya dengan Norman Warne (Ewan McGregor), adik laki-laki paling bungsu dari Warne bersaudara yang ingin membantu Potter menerbitkan bukunya. Pertemuan demi pertemuan terjadi. Hingga cinta bersemi mereka.
Anda akan tergeli melihat akting Renee yang memerah pipinya setelah Warne mengajaknya berdansa. Matanya yang berhambur air mata bahagia setelah ia melepas kepergian Warne dari jendela rumahnya. Lalu melenggang sendiri sembari memainkan pemutar musik. Tingkah Potter yang malu-malu saat menerima lamaran Warne, serta begitu santunnya Potter menjaga diri dalam bergaul, mungkin selayak muslimah saat jatuh cinta … he … he ….
Sayangnya, kedua orang tua Potter tak merestui hubungan mereka. Ayah dan ibu Potter mengajak putrinya untuk menghabiskan musim panas di District Lake. Tentunya agar keduanya dapat terpisah. Hanya lewat surat, Potter dan Warne dapat saling bercerita. Kemudian Warne menghilang. Sampai akhirnya Potter mengetahui perihal kematian tunangannya itu.
Potter sempat down pasca kematian Warne. Tapi Millie (Emilly Watson), adik Norman Warne selalu menemani Potter melewati kesedihannya. Hingga akhirnya Potter memutuskan untuk membeli tanah dan rumah sendiri di daerah pinggiran yang jauh dari London dari hasil penjualan buku-bukunya.
Kemudian ia menghabiskan sisa waktunya dengan menikahi teman masa kecilnya, William Heelis (Lloyd Owen), yang berpendidikan hukum, meski ibunya tetap tidak merestui pernikahannya.
Meskipun dalam film ini ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan kehidupan Potter yang sebenarnya. Misalnya William Heelis yang sebenarnya bukan pengawas lahan pertanian dan bukan teman masa kecil Potter, bahkan sebenarnya Potter lebih tua dari Heelis. Tapi, semua kejanggalan itu tertutupi dengan pengambilan gambar setting pedesaan dengan areal peternakan dan danau yang sungguh eksotik. Salut!
* * *
Berikut ini adalah biografi Helen Beatrix Potter yang dikutip dari Wikipedia.
Beatrix Potter dilahirkan di Kensington, London pada tanggal 28 Juli 1866. Ia dididik dan belajar di rumah, sehingga ia mempunyai sedikit kesempatan untuk berkumpul bersama teman-teman sebayanya. Bahkan adik laki-laki Potter, Bertram, sangat jarang berada di rumah; dia disekolahkan di sekolah asrama, sehingga Beatrix hanya sendirian bersama hewan peliharaannya. Ia mempunyai katak dan kadal, dan bahkan kelelawar. Ia juga pernah memiliki dua ekor kelinci. Kelinci pertamanya adalah Benjamin, yang ia gambarkan sebagai “benda kecil yang bermuka tebal dan kurang ajar”, sedangkan kelinci keduanya adalah Peter, yang selalu dibawanya ke manapun ia pergi bahkan di dalam kereta api. Potter sering memperhatikan hewan-hewan ini selama berjam-jam dan membuat sketsa mereka. Sedikit demi sedikit, sketsa yang dibuatnya semakin baik, membuat bakatnya berkembang sejak usia dini.
Ayah Potter, Rupert William Potter (1832–1914), walaupun dilatih sebagai seorang advokat (barrister), lebih suka menghabiskan hari-harinya di sebuah perkumpulan dan jarang berlatih. Ibunya, Helen Potter née Leech (1839–1932), anak dari seorang pedagang katun, menghabiskan waktunya untuk mengunjungi atau menerima pengunjung. Keluarga ini disokong oleh pemasukan warisan kedua orang tua mereka.
Setiap musim panas, Rupert Potter menyewa sebuah country house; pertama-tama, Dalguise House di Perthshire, Scotlandia selama sebelas musim panas tahun 1871 sampai tahun 1881, lalu kemudian di Distrik Lake, Inggris. Pada tahun 1882, keluarga ini bertemu dengan seorang vikaris lokal, Canon Hardwicke Rawnsley, yang sangat khawatir tentang efek industri dan turisme pada Distrik Lake. Dia selanjutnya mendirikan National Trust pada tahun 1895, untuk membantu melindungi ini. Beatrix Potter pun jatuh cinta dengan pegunungan yang menjulang dan danau-danau hitam di daerah itu, dan melalui Rawnsley, belajar mengenai pentingnya menjaga keutuhan daerah itu, sesuatu yang akan ia tekuni selama sisa hidupnya.
Ketika Potter beranjak dewasa, orang tuanya menunjuknya sebagai pengurus rumah dan mengurangi pengembangan intelektualnya, mengharuskannya untuk mengurusi rumah. Sejak umur 15 tahun sampai sekitar umur 30 tahun, ia mencatat kehidupan kesehariannya di sebuah jurnal, menggunakan kode rahasia (yang tidak terdekripsi sampai beberapa dekade setelah kematiannya).
Seorang pamannya ingin memasukkannya sebagai pelajar di Royal Botanical Gardens di kota Kew, tapi dia ditolak karena ia adalah wanita. Potter kemudian menjadi salah satu yang mengungkapkan bahwa lumut kerak merupakan hubungan simbiosis antara jamur dan ganggang. Sebagai hasil dari pengamatannya, dia dihormati secara luas di seluruh penjuru Inggris sebagai seorang ahli mikologi. Dia juga mempelajari spora dan daur hidup jamur.
Pada tahun 1897, paper-nya tentang germinasi spora dipresentasikan kepada Linnean Society oleh pamannya, Henry Enfield Roscoe, karena wanita tidak diizinkan mengikuti pertemuan. (Pada tahun 1997, perkumpulan itu mengumumkan permohonan maaf resmi kepada Potter atas cara ia diperlakukan.)
Hal yang mendasari kebanyakan proyek dan ceritanya adalah hewan-hewan kecil yang menyelundup ke dalam rumah atau yang ia amati ketika liburan keluarga di Skotlandia dan Distrik Lake. Dia didorong untuk mempublikasi cerita The Tale of Peter Rabbit, dan ia pun berjuang untuk mencari penerbit sampai ia akhirnya diterima saat berumur 36 tahun pada 1902, oleh Frederick Warne & Co. Buku kecil ini dan karya-karyanya yang lain diterima masyarakat dengan baik dan ia memperoleh pendapatan dari penjualan karyanya tersebut. Dia juga secara rahasia bertunangan dengan si penerbit, Norman Warne, tapi orang tuanya melarangnya menikah dengan seorang pedagang. Pertentangan mengenai pernikahan ini membuat hubungan Beatrix dan orang tuanya renggang. Namun, pernikahan itu tidak juga berlangsung, karena segera setelah pertungangan, Norman jatuh sakit karena pernicious anemia dan meninggal dalam beberapa minggu. Beatrix sangat terpukul. Ia menulis sebuah surat kepada saudara perempuannya, Millie, “Dia tidak berumur panjang, tapi ia memenuhi kehidupan yang bahagia. Saya harus mencoba untuk memulai permulaan baru tahun depan.”
Potter pada akhirnya menulis 23 buku. Buku-buku ini diterbitkan dalam format kecil, memudahkan anak kecil untuk memegang dan membaca. Produktivitasnya untuk menghasilkan karya sastra pun menurun sekitar tahun 1920 karena daya penglihatannya yang menurun. The Tale of Little Pig Robinson diterbitkan pada tahun 1930; walaupun naskah aslinya merupakan salah satu yang pertama kali ditulis, lama sebelum tanggal publikasinya.
Setelah kematian Warne, Potter membeli Pertanian Hill Top di desa Sawrey, Cumbria, Distrik Lake. Ia mencintai bentang alamnya, dan mengunjungi pertanian tersebut sesering mungkin, membicarakan masalah sawahnya dengan manajer pertanian John Cannon. Dengan aliran royalti yang terus-menerus dari buku-bukunya, dia mulai membeli petak-petak tanah di bawah bimbingan William Heelis. Pada tahun 1913 saat berumur 47 tahun, Potter menikah dengan Heelis dan pindah ke Pertanian Hill Top untuk menetap di sana. Sementara pasangan itu tidak mempunyai anak, pertanian tiu terasa hidup dengan banyak anjing, kucing, dan bahkan landak peliharaan.
Ketika orang tua Potter minggal, ia menggunakan warisannya untuk membeli tanah pertanian dan bidang-bidang tanah lagi. Setelah beberapa tahun, Potter dan Heelis pindah ke desa Sawrey, dan Castle Cottage — di mana anak-anak setempat kenal baik akan kesederhanaannya, dan memanggilnya dengan sebutan “Auld Mother Heelis”.
Beatrix Potter meninggal di Castle Cottage di Sawrey tahun 1943. Tubuhnya dikremasi, dan abunya disebar di daerah pinggir kota di dekat Sawrey.
Berdasarkan keinginannya, Potter memberi hampir seluruh kepentingan propertinya kepada National Trust 4.000 are (16 km²) tanah, cottage, dan 15 pertanian. Peninggalannya itu membuat keindahan Distrik Lake tetap tidak terganggu sampai hari ini. Properti miliknya kini ada di Lake District National Park.
Ada beberapa lokasi terbuja untuk umum yang berhubungan dengan Potter, terutama di area Hawkshead dari Distrik Lake, termasuk: (1) Pertanian Hill Top – terbuka untuk umum, tapi untuk pengunjung dengan jumlah terbatas per harinya. Sudah direstorasi persis seperti kondisinya ketika Potter masih tinggal di sana. (2) Beatrix Potter Gallery – di desa Hawkshead, menampilkan beberapa surat original dan karya lukisan. (3)The Beatrix Potter Attraction – menampilkan koleksi model dan hasil karya Beatrix, di kota Windermere. (4) The Beatrix Potter Garden – di Dunkeld House, Perthshire, Scotlandia, sekarang merupakan bagian dari Birnam Institute. (5) The Beatrix Potter Shop – di Gloucester, bangunan ini merupakan dasar penulisan buku The Tailor of Gloucester.
Karya-karya Beatrix Potter diantaranya adalah:
The Tale of Peter Rabbit (1902)
The Tale of Squirrel Nutkin (1903)
The Tailor of Gloucester (1903)
The Tale of Benjamin Bunny (1904)
The Tale of Two Bad Mice (1904)
The Tale of Mrs. Tiggy-Winkle (1905)
The Tale of the Pie and the Patty-Pan (1905)
The Tale of Mr. Jeremy Fisher (1906)
The Story of A Fierce Bad Rabbit (1906)
The Story of Miss Moppet (1906)
The Tale of Tom Kitten (1907)
The Tale of Jemima Puddle-Duck (1908)
The Tale of Samuel Whiskers or, The Roly-Poly Pudding (1908)
The Tale of the Flopsy Bunnies (1909)
The Tale of Ginger and Pickles (1909)
The Tale of Mrs. Tittlemouse (1910)
The Tale of Timmy Tiptoes (1911)
The Tale of Mr. Tod (1912)
The Tale of Pigling Bland (1913)
Appley Dapply’s Nursery Rhymes (1917)
The Tale of Johnny Town-Mouse (1918)
Cecily Parsley’s Nursery Rhymes (1922)
The Fairy Caravan (1929)
The Tale of Little Pig Robinson (1930)
* * *